Senin, 17 Juni 2013

analisa valuasi ekonomi sektor peternakan dalam peranan emisi gas rumah kaca




BAB I
PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG
Salah satu topik yang sudah menjadi permasalahan global  adalah Global Warming. Salah satu contohnya adalah Emisi Gas Rumah Kaca. GRK (Gas Rumah Kaca) bukan merupakan permasalahan baru bagi kita. Gas Rumah Kaca dapat didefenisikan  sebagai gas-gas yang teremisi secara alami maupun antropogenik, menyerap dan memancarkan kembali radiasi inframerah dan menyebabkan efek yang kita sebut efek rumah kaca. Salah satu penyebabnya adalah gas metana.
Metana merupakan gas yang terbentuk oleh adanya ikatan kovalen antara 4 atom H dengan 1 atom C, metana merupakan suatu alkana. Alkana sendiri mempunyai sifat sukar bereaksi (memiliki afinitas kecil) sehingga disebut farafin. Sifat lainnya  mudah mengalami pembakaran sempurna dengan oksigen dan menghasilkan gas karbondioksida (CO2) dan Uap air (H2O).                   
(http://www.jejaringkimia.web.id/2010/12/mengenal-gas-metana.html)

Sektor peternakan merupakan salah satu penyumbang gas metana terbesar.  Kurang lebih sekitar 51% gas metan di atmosfer adalah hasil dari produksi sektor peternakan. Food and Agriculture Organizatio (FAO) mengatakan bahwa emisi metana dari hewan berperan 72 kali lebih besar dalam menyerap panas matahari dibandingkan dengan COdengan potensi 23 kali terhadap pemanasan global.  
 Gambar 1.1
Perkiraan Total Emisi CH4 dari Hewan Ternak menurut Pulau, 2004 - 2007
                   Sumber : Kementrian lingkungan hidup Negara Republik Indonesia.


        Secara garis besar di Indonesia, kepulauan sumatera menempati urutan kedua terbesar dalam menyumbang emisi gas (termasuk Aceh). Hal ini tidak hanya berasal dari industri saja melainkan dari sektor peternakan. Tidak hanya untuk katagori hewan ternak besar saja melainkan ternak unggas juga harus diperhatikan.
Gambar 1.2
 Perkiraan Emisi CH4 dari Unggas menurut Pulau, 2005 - 2007



                     Sumber : Kementrian lingkungan hidup Negara Republik Indonesia
            Seperti yang sudah dipublikasikan baik media cetak maupun elektronik bahwa gas metana dapat digunakan sebagai alternatif terhadap penggunaan energi dimana kita tahu sebagian besar cadangan energi kita tidak dapat diperbaharui. Selain itu gas metan juga dapat digunakan sebagai energi untuk rumah tangga sebagai pengganti minyak atau lpg (liquefied petroleum gas). Tetapi pada kenyataanya fungsi dari gas metan ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, yang pada akhirnya menimbulkan dampak negatif terhadap manusia itu sendiri.
Table 1.1
Keadaan Populasi Hewan Ternak di Kota Banda Aceh tahun 2010


Keadaan populasi ternak di Kota Banda Aceh tahun 2010
Jenis  ternak
Ekor
Sapi
2.058
Kerbau
120
Kambing
6.91
Domba
1.119
ayam buras (kampung)
62.522
Ayam Ras ( Petelur)
2.1
Ayam Ras (pedaging)
0
Itik
2.939
Sumber : BPS Kota Banda Aceh

       Jika melihat kepada data yang dikeluarkan oleh BPS, wajar apabila kita mempertanyakan sejauh mana peran sektor peternakan di Aceh dalam menyumbang emisi gas rumah kaca.


Gambar 1.3
Arus kotoran hewan ternak besar.



               http://nasimfauzi.blogspot.com/2013_03_01_archive.html

Jika membandingkan pertumbuhan antara hewan ternak besar dengan pertumbuhan kendaraan memang tidak sepadan. Tetapi seperti yang dapat dilihat pada gambar 1.3 bawa untuk seekor sapi seberat 1,100 pond mengahasilkan 14,6 ton gas metan melalui kotoran atau setara dengan 10 mobil.  Secara sederhana tentu kita dapat menghitung produksi gas metan di Aceh dengan angka 2.058 ekor sapi yang ada sekarang kita sudah menghasilkan sekitar 30046.8 ton per tahunnya (dengan asumsi bahwa berat sapi yang ada = 1.100 pond/ekor). Kita tentu tidak bisa menyalahkan pertumbuhan sektor peternakan begitu saja karena Seperti yang diketehui pertumbuhan antara manusia dengan sektor peternakan mempunyai  hubungan yang positif. Dimana jika ada peningkatan populasi manusia tentu harus diikuti dengan peningkatan populasi hewan ternak sebagai kebutuhan dasar untuk hidup. Salah satu dampak lainnya yang timbul  dari pemanasan global adalah timbulnya penyakit-penyakit berbahaya. Salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Dr. Karin Schenk-Gstafsson dari departemen Kardiologi, institute Karonlinska di Swedia, 2007 jika pemanasan global terjadi pada tingkat yang sama, akan banyak terjadi penyakit kardiovaskular. Data didunia menyebutkan 30% tingkat kematian disebabkan oleh penyakit ini. Terlepas dari seberapa besar pengaruh negatif sektor peternakan terhadap pemanasan global, manusia masih membutuhkan hewan ternak sebagai pemasok kebutuhan utama makanan.
Secara umum manusia membutuhkan Kandungan yang terdapat dalam daging meliputi : (a) zat besi. Zat besi merupakan zat yang dibutuhkan untuk membangun metabolisme dalam tubuh. Kekurangan zat ini akan menyebabkan anemia sehinggan menjadi lesu. (b) protein. Protein yang terkandung dalam daging berfungsi membangun jaringan baru dalam sel. (c) Selenium. Zat ini berfungsi untuk membentuk zat antioksidan dan meningkatkan imunitas bagi anak-anak.(d) Seng atau zinc. Zat ini memiliki fungsi utama yang sama dengan zat besi dan selenium. Selain itu jika kekurangan zat ini dapat menyembabkan gangguan pada pengembangan jaringan reproduksi laki-laki dan pembentukan jaringan sperma serta mengganggu fungsi kekebalan tubuh. (e) vitamin B kompleks. Fungsi utama zat ini mempengaruhi sistem kerja saraf otak sehingga mampu menjaga konsentrasi dan meningkat daya ingat. (f) Omega 3. Secara umum omega 3 membantu fungsi jantung dan hati.
(http://vikybahagia.com/daging-sapi/kandungan-gizi-daging.html)


2.      Rumusan masalah
Melihat sejauh mana pengaruh sektor peternakan terhadap permasalahan emisi gas rumah kaca.

3.      Tujuan Penelitian
a.       Menjadikan pemahamman bagi penulis bagaimana peranan sektor peternakan dalam emisi gas rumah kaca.
b.      Memperlihatkan berapa biaya (cost) yang akan kita keluarkan apabila sektor peternakan turut membantu proses emisi gas rumah kaca.
4.      Manfaat penelitian
Menjadikan langkah awal bagi seluruh kalangan masyarakat dalam memahami pentingnya menjaga lingkungan  dan terutama menjadi referensi bagi pihak - pihak terkait dengan regulasi dibidang peternakan.

 BAB II
                  STUDI KEPUSTAKAAN

2.1.  Landasan Teori
2.1.1  Definisi Peternakan.
            Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa peternakan berasal dari kata “ternak” yaitu hewan yang dipelihara dengan tujuan produksi, sedangkan peternakan sendiri mempunyai pengertian pemeliharaan dan pembiakan hewan ternak. Peternakan lebih bersifat profit oriented. Lebih lanjut, pengertian peternakan tidak terbatas pada pemeliharaan saja. Perbedaan pemeliharaan dan peternakan terletak pada tujuan yang ditetapkan. Tujuan peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan prinsip-prinsip manajemen pada faktor–faktor yang telah dikombinasikan secara optimal. (http://id.wikipedia.org/wiki/Peternakan). 
       Dalam pasal 1 bab 1 Undang – Undang Nomor 6 Tahun 1967, tentang ketentuan–ketentuan pokok peternakan dan kesehatan hewan diantaranya :
1.    Ternak adalah Hewan peliharaan yang kehidupannya yakni mengenai tempat, perkembangbiakan serta manfaatnya diatur dan diawasi oleh manusia dan dipelihara khusus sebagai penghasil bahan-bahan dan jasa-jasa yang berguna bagi kepentingan hidup manusia.
2.  Peternak adalah orang atau badan hukum dan atau buruh peternakan yang mata pencahariannya sebagian atau seluruhnya bersumber kepada peternakan.
3.   Peternakan adalah pengusahaan/pembudidayaan/pemeliharaan ternak dengan segala fasilitas penunjang bagi kehidupan ternak.
4. Peternakan murni adalah cara peternakan dimana perkembangbiakan ternak-ternaknya dilakukan dengan jalan pemacekan antara ternak/hewan yang termasuk dalam satu rumpun.
5. Perusahaan peternakan adalah usaha peternakan yang dilakukan pada tempat tertentu serta perkembang biakannya dan manfaatnya diatur dan diawasi oleh peternak-peternak.
6.  Kelas Ternak adalah sekumpulan atau sekelompok bangsa-bangsa ternak yang dibentuk dan dikembangkan mula-mula disuatu daerah tertentu.
7.    Bangsa Ternak (Breed) adalah Suatu kelompok dari ternak yang memiliki persamaan dalam bentuk morphologis, sifat-sifat fisiologis ddan bentuk anatomis yang karakteristik untuk tiap-tiap bangsa dan sifat-sifat persamaan ini dapat diturunkan pada generasi selanjutnya.

Rohmad (2013) mengungkapkan Penggunaan istilah dalam peternakan dimaksudkan untuk menghindarkan salah pemahaman terhadap kata “ternak” dan “hewan”. Hewan merupakan objek peternakan, tetapi tidak ada campur tangan manusia dalam segala bidang  kehidupan objek. Sedangkan hewan dikatakan ternak jika segala aspek kehidupan objek sudah ada campur tangan manusia. Dalam peternakan terdapat Istilah Animal Husbandry dan Animal Breeding. Dalam Bahasa Indonesia keduanya memiliki arti yang sama yaitu “ beternak”,  namun sebenarnya ada perbedaan makna diantara keduanya :
1.   Beternak dalam arti luas meliputi komponen memelihara, merawat, mengatur kehidupan, mengatur perkawinan, mengatur kelahiran, penjagaan kesehatan serta mengambil manfaatnya dengan kata lain disebut Animal Husbandry.
2.  Animal Breeding adalah Beternak dalam arti sempit yang hanya menitik beratkan pada usaha mengatur perkembangbiakan seperti mengatur perkawinan, pemilihan bibit, menjaga kemandulan dan kebuntingan serta kelahiran.
3.    Cross Breeding adalah Perkawinan antara hewan/ternak yang berbeda bangsanya (Breed) dimana masing-masing adalah bangsa murni.
4.     Grading Up adalah suatu sistem breeding dimana pejantan murni (biasanya didatangkan dari tempat lain) dikawinkan dengan betina lokal. Sesudah itu keturunannya yang betina dikawinkan pula dengan pejantan murni itu. Close Breeding / Inbreeding adalah Sistem perkawinan antar individu yang masih erat hubungan kekeluargaannya.
5.      Line Breeding adalah In Breeding yang diarahkan pada suatu sifat Individu yang disukai.
6.    Line-crossing adalah persilangan antara lines baik dalam bangsa yang sama ataupun antar bangsa yang berbeda.

Karakteristik Peternakan, meliputi :
1.  Karakteristik Ternak adalah usaha/industri yang dikendalikan oleh manusia dimana mencakup 4 komponen yaitu : manusia sebagai subyek, ternak sebagai objek, lahan/tanah sebagai basis ekologi dan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dalam penelitian ini keempat (4) komponen tersebut point terakhir menjadi kendala. Masih banyaknya peternak yang membudidayakan hewan secara tradisional. Kandang, pakan ternak, manajemen budidaya, perkawinan semua masih menggunakan system tradisional. Sebagai contoh di Aceh sendiri tidak hanya di daerah pedesaan tetapi di perkotaan masyarakat masih melepaskan hewan ternak untuk mencari makan sendiri tanpa ada kontrol dari sipeternak.
2.    Karakteristik Usaha dinamis, dimana usaha peternakan harus dikaji dengan analisis dinamis dengan referensi waktu dan penuh dengan ketidakpastian.
3.  Karakteristik Produk peternakan adalah karakteristik hasil utama maupun sampingan usaha peternakan. Yaitu Fragile (mudah pecah secara fisik), Perishable (mudah rusak secara kimiawi dan biologi), Quality variation     (tingkat variasi yang tinggi dalam kualitas produk) serta Bulky ( Nilai ekonomis hasil samping berlawanan dengan hasil utama). Untuk kawasan Aceh sendiri masih berfokus kepada hasil utama dari ternak seperti daging dan telur saja. Kalaupun ada sedikit sekali yang mampu mengelolah hasil sampingan dari peternakan seperti olahan pupuk dari kotoran ternak ( baik itu tinja maupun urine), bulu domba, kulit hewan ternak dll.
4.      Karakteristik Produksi Peternakan adalah faktor-faktor produksi usaha peternakan yang jumlahnya relatif banyak serta dominansi pengaruh lingkungan yang besar. Maksudnya keberadaan peternakan lebih disebabkan oleh tradisi keluarga yang sudah ada sejak dulu.
5.     Karakateristik sistem Usaha Peternakan terdiri dari Sistem Intensif (modal dan teknologi tinggi/banyak dengan tenaga kerja rendah/sedikit) serta sistem ektensif (modal dan teknologi rendah/sedikit dengan tenaga kerja tinggi/banyak).  Jika melihat pada sistem yang pertama untuk kawasan Aceh akan mengalami kesulitan dikarenakan upah tenaga kerja kawasan Aceh tergolong tinggi sedangkan untuk sistem yang kedua masih terkendala finansial dan SDM yang mumpuni dalam pengelolaannya.

Adapun jenis ternak yang dapat di kembangbiakan oleh masyarakat :
1.  Ternak Unggas (Class Aves biasanya Meat type dan Egg type) antara lain Ayam (Gallus  domesticus), Itik (Anas planthyrynchos), Entog (Cairina moschata), Angsa (Anser anser) dan Kalkun (Melegris galopavo) dan Tiktok.
Gambar 2.1
 Ternak Unggas
               Sumber : http://rohmatfapertanian.wordpress.com/materi-kuliah/ 

2.      Ternak Potong (Class Mamalia biasanya Meat type) antara lain  Ternak Potong Besar :  Sapi (Bos species), Kerbau (Buballus bubalis),  Kuda (Equs caballus), Keledai (Equs asinus), Zebra (Equs hipotigris) dan Unta (Camell dromedarius). Ternak potong kecil : Kambing (Capra species), Domba (Ovisspecies), Babi (susspecies).




      Sumber : http://rohmatfapertanian.wordpress.com/materi-kuliah/ 

Gambar 2.3

Jenis–Jenis Ternak Potong (sapi, kambing, mamalia dan rusa)
                      Sumber : http://rohmatfapertanian.wordpress.com/materi-kuliah/ 
3.      Ternak Perah (Class Mamalia biasanya Milk type) antara lain Sapi Perah, Kerbau Perah, Kuda Perah, Kambing Perah dan Unta Perah.
Gambar 2.4
Jenis – Jenis Ternak Perah
                         Sumber : http://rohmatfapertanian.wordpress.com/materi-kuliah/ 
4.     Aneka Ternak adalah ternak-ternak yang tidak dalam satu class antara lain :  Kelinci (Lepus cuniculus), Lebah (Apis species),  Puyuh (Coturnix coturnix), Bekicot, Walet,  Kodok dll.
Gambar 2.5

Jenis lainnya hewan yang dapat diternak.

                         Sumber : http://rohmatfapertanian.wordpress.com/materi-kuliah/ 
Kegunaan Ternak.
Penjinakkan hewan liar merupakan langka awal dalam pemenuhan kebutuhan manusia dikarenakan apabila  berharap pada  pemenuhan kebutuhan kepada proses alami dari hewan liar akan membutuhkan waktu yang lama (perbandingan tingkat pertumbuhan hewan sebagai kebutuhan tidak sebanding dengan pertumbuhan manusia) . Adapun manfaat atau kegunaan dari usaha ternak yaitu :
a)     Sebagai sumber gizi. Produksi hewan tidak hanya terbatas  mengahasilkan daging saja melainkan susu yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Seperti yang kita ketahui tubuh manusia membutuhkan setidaknya protein (secara umum orang dewasa membutuhkan 1 gram/kg dari berat badan), dan lemak yang disediakan oleh hewan (dan untuk lemak jumlah sebesar 62 gram). Dan untuk itu kenapa pentingnya kita memperhatikan permasalahan peran sektor peternakan terhadap emisi gas rumah kaca. Satu sisi kita butuh sektor peternakan sebagai sumber kehidupan, sisi yang lain dengan pertumbuhan sektor ini juga menimbulkan permasalahan keberlangsungan tidak hanya kepada lingkungan saja, biota darat maupun laut, terlebih kepada manusia itu sendiri.
b)   Sebagai sumber tenaga. Keberadaan ternak besar sudah memberikan manfaat yang begitu besar bagi manusia dimana sebelum masuknya teknologi hewan seperti sapi, kerbau dapat digunakan manusia dalam membantu mengelolah lahan pertanian (sebelum menggunakan traktor petani menggunakan sapi atau kerbau untuk membajak sawah).  Hal ini sudah dilakukan sejak lama.
c)  Sebagai sumber pupuk. Hasil sampingan kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang bagi tanaman. Hal ini tentu berdampak positif kepada tidak lagi penggunaan pestisida yang berbahaya bagi produk pertanian. Kurangnya perhatian serta tidak adanya usaha untuk mempromosikan pupuk kandang diduga sebagai penyebab kalah saing dengan pupuk pestisida.
d)  Sebagai sumber bahan industri. Tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan makan saja, hewan ternak juga menjadi input bagi sektor industri. Dengan masuknya hewan ternak sebagai faktor input bagi sektor industri akan menambah nilai guna / value added dari hewan ternak tersebut. Daging tidak hanya dapat dikonsumsi dengan berbagai bentuk seperti diolah menjadi abon yang mempunyai nilai lebih.
e)      Sebagai sumber lapangan kerja. Bagaimanapun maju perkembangan teknologi sektor peternakan tetap saja membutuhkan campur tangan manusia dalam prosesnya dikarenakan industri ini bersifat biologis. Jika dikelolah dengan baik tentu saja sektor ini dapat dengan mudah menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. 
f)    Sebagai sumber penelitian ilmu. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan, maka ternak merupakan sarana penelitian yang efektif bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Hewan ternak merupakan objek yang dapat dengan mudah diamati oleh manusia. Berkembangnya pengetahuan akan menghasilkan beragam teknik dalam manajemen pengelolaan hewan ternak dengan hewan ternak itu sendiri sebagai objek penelitian.
g)    Sebagai sumber pariwisata dari segi sosial, maka ternak merupakan daya tarik wisata tersendiri, khususnya terkait dengan hobi atau kesenangan (Funcy). Kelinci, buaya, dan kuda sering kali tidak hanya diberdayakan  sebagaimana hewan ternak tetapi juga dijadikan sebagai objek wisata yang disediakan oleh kebun binatang maupun peternakan.
h) Sebagai sumber status sosial. Kepemilikan ternak dapat meningkatkan status sosial bagi seseorang atau sekelompok orang khususnya kepemilikan ternak-ternak pilihan. Untuk beberapa katagori hewan ternak seperti Landak Mini Hedgehoghamster winter golden red eyes mempunyai daya tarik tersendiri bagi sekelompok orang dengan status sosial menengah keatas. Anggapan memelihara hewan langka akan meningkatkan derajat sosial dikalangan mereka.
i)      Sebagai sumber sosial budaya. Seperti yang diketahui di Indonesia sendiri memiliki budaya yang beragam. Beberapa budaya memiliki kesamaan untuk menjadikan hewan ternak sebagai pengorbanan terhadap hal-hal yang dianggap religi menurut budaya masing-masing.
2.1.2 Gas Metana

Metana merupakan gas yang terbentuk oleh adanya ikatan kovalen antara empat atom H dengan satu atom C. Metana merupakan suatu ltern. Alkana secara umum mempunyai sifat sukar bereaksi  (memiliki afinitas kecil) sehingga biasa disebut sebagai parafin. Sifat lainnya mudah bereaksi dengan udara H2O dengan rumus :
CH4 (g) + O2 (g) ® CO2 (g) + H2(g)
Metana merupakan gas yang tidak berwarna, sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tetapi metana dapat diidentifikasi melalui indra penciuman karena baunya yang khas. Adapun beberapa hal yang dapat menyebabkan gas metana :
1.     Metana dapat ditemukan pada kotoran hewan seperti sapi, kambing, domba, babi, unggas.
2.     Selain pada kotoran, hewan memamah biak juga menyuplai gas metana melalui proses sendawa
3.     Metana juga ditemukan pada kotoran manusia.
4.     Gas elpiji yang kita gunakan juga mengandung gas metana.
5.     Metana terdapat pada sampah-sampah organik setelah dilakukan perombakan oleh bakteri  (beberapa industri memanfaatkan sampah organic untuk mengisolasi gas metana ini sebagai lternative pengganti energi berbahan dasar fosil, termasuk isolasi gas metana dari kotoran hewan ternak)
6.     Metana dapat terbentuk melalui proses pembakaran biomassa atau rawa-rawa (proses alam seperti  biogenic, termogenik, dan abiogenik)
7.     Lahan gambut juga bisa menghasilkan gas metana.



Pada beberapa kasus, gas metana tidak hanya dihasilkan oleh faktor – fator diatas melainkan, Bagian barat Siberia (Danau Baikal) memiliki daerah kolam berlumpur seluas Prancis dan Jerman yang beku oleh es abadi. Di daerah ini mengandung tidak kurang  dari 70 miliar ton metan hidrat. Daerah antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana dalam bentuk hidratnya. Gas metana juga ditemukan terperangkap pada lantai samudra di kedalam 1000 kaki dengan jumlah yang sangat banyak, biasa disebut sebagai metan clathrate .

Gambar 2.6
Proses penggunaan gas metan.


http://materialcerdas.wordpress.com/riset/efek-zeolit-pada-produksi-gas-metan/

Gambar diatas menunjukan bahwa gas metan sebenarnya dapat dikelola skala rumah tangga. Tetapi proses ini bukan hal yang orang awam dapat lakukan tanpa pemahaman dan fasilitas yang memadai. Seperti yang dikatakan diawal bahwa gas metan dapat dengan mudah bereaksi terhadap oksigen. Gas metan juga  dapat bersifat seperti racun apabilah dalam jumlah banyak. Gas metan tidak beracun apabila tidak melewati ambang batas sekitar 5 % atau 50.000 ppm. Ketika melewati ambang batas tersebut efek yang umum timbul adalah sesak nafas (Asfiksia). Asfiksia adalah kondisi dimana gas metan menggantikan oksigen dalam tubuh manusia. Setidaknya 18%  oksigen harus berada dalam tubuh apabila kurang dari 18% maka yang akan terjadi :
a.       12% -16%, pernapasan dan denyut nadi meningkat dengan inkoordinasi otot.
b.      10 % –14%, gangguan emosional, kelelahan abnormal dari tenaga, respirasi terganggu.
c.     6% –10%, mual dan muntah, ketidakmampuan untuk bergerak bebas,  kolaps, kurangnya kesadaran.
d.      Dibawah 6%, kejang – kejang, terengah – engah, kemnungkinan kematian.
2.1.3 Definisi Eksternalitas
Eksternalitas digambarkan sebagai efek yang dirasakan oleh seseorang yang ditimbulkan oleh kegiatan orang lainnya. Hal yang serupa juga dinyatakan oleh ana dimana eksternalitas adalah suatu efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampak yang menguntungkan maupun yang merugikan.( http://ana-ekonomi.blogspot.com/). Macam – macam eksternalitas ditinjau dari segi dampak dibagi menjadi 2 yaitu :
2.1.3.1 Eksternalitas Positif
Eksternalitas positif adalah tindakan seseorang yang memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi manfaat tersebut tidak akan dialokasikan di dalam pasar. Jika kegiatan dari beberapa orang menghasilkan manfaat bagi orang lain yang menerima manfaat tersebut tidak membayar atau memberikan harga atas manfaat tersebut maka nilai dari kegiatan tersebut tidak tercermin dalam kegiatan pasar. Sudah menjadi pengetahuan umum jika  merokok tidak hanya menimbulkan dampak terhadap si konsumen saja, tetapi individu disekitarnya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Roan (Ilmu Kedokteran Jiwa, Psikiatri, 1979 : 33) yang mana menyatakan efek dari rokok/tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, tingkah laku dan fungsi pikomotor. Jika dibandingkan dengan zat aditif lainnya rokok sangatlah rendah pengaruhnya, maka ketergantungan tidak begitu dianggap gawat. Ketika seseorang berhenti merokok maka individu tersebut tidak hanya mengurangi dampak negatif dari rokok terhadap dirinya sendiri, melainkan orang lain juga akan terhindar dari efek negatif tersebut.



Ketika teman saya yang mulanya seorang perokok mempengaruhi tingkat kesehatan saya dalam jangka pendek (kemampuan produksi saya berada pada Pa dan Qa) ketika dia berhenti maka akan memberikan dampak positif kepada saya dikarenakan saya tidak lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan ( dengan kata lain dapat menggunakan biaya tersebut kepada keperluan lainnya). Selanjutnya produktivitas saya akan meningkat, hal ini tergambar pada kurva D  yang bergeser menjadi D + E (p* dan Q*). Selisih atau besarnya jarak dari D+E ke D adalah manfaat atau gains yang saya dapat.

2.1.3.2  Eksternal Negatif
Ekstenal Negatif adalah biaya yang dikenakan kepada orang lain diluar sistem pasar sebagai produk dari kegiatan produktif. Contoh dari Eksternalitas negatif adalah pencemaran lingkungan. 




Katakan saya menggunakan sepeda motor dengan settingan knalpot racing. Hal itu akan memberikan dampak negatif seperti tingkat kebisingan yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat tidak hanya saat dalam berproduksi saja. Pada kondisi masyarakat berproduksi pada Qa dan Pa adalah kondisi dimana kondisi optimum produksi masyarakat. Akibat saya menggunakan knalpot bolong saya dampak yang saya hasil dapat berupa masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memaksa peredam suara, atau saya dapat mengurangi jam produksi dari masyarakat ( Pa, Qa bergerak ke P*,Q*). Selisih antara keduanya adalah cost ekstra yang dikeluarkan oleh masyarakat sekitar.
Sedangkan macam – macam eksternal jika ditinjau dari segi pihak – pihak yang melakukan dan pihak yang menerima akibat dari eksternalitas dapat dibagi menjadi 4 yaitu :
1. Eksternalitas produsen terhadap produsen. Eksternalitas produsen terhadap produsen terjadi ketika output dan input yang digunakan oleh suatu perusahaan mempengaruhi output dan input yang digunakan oleh perusahaan lain. Contohnya ketika ketika saya selaku produsen batu bata berproduksi tidak membatasi kegiatan produksi saya, residu yang saya hasilkan dapat mempengaruhi produsen sekitar saya seperti peternak sekitar, rumah tangga dalam hal polusi udara.
2. Eksternalitas produsen terhadap konsumen. Dalam kasus eksternalitas produsen terhadap konsumen eksternalitas terjadi ketika fungsi utilitas konsumen tergantung pada output dari produsen. Contohnya katakan pabrik kertas tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan saja dikarenakan harus menggunakan pohon sebagai faktor produksi, efek lainnya kegiatan produksi dapat menimbulkan polusi udara dan menyebakan bau yang tidak baik bagi pernapasan.
3. Eksternalitas konsumen terhadap produsen. Jenis eksternalitas konsumen terhadap produsen jarang terjadi didalam praktek. Eksternalitas konsumen terhadap produsen meliputi efek dari kegiatan konsumen terhadap output perusahaan. Pada umumnya masyarakat yang berada dipinggiran sungai menggunakan sungai untuk berbagai keperluan seperti mencuci, mandi, sanitasi, bahkan ada yang menggunakan untuk dikonsumsi. Kegiatan seperti mandi, sanitasi jika terjadi disungai sudah pasti akan menghasilkan residu yang berbahaya bagi ekosistem sungai tersebut. Selain itu sungai yang awalnya dapat dipergunakan untuk tambak ikan jika sudah dicemari oleh kegiatan rumah tangga seperti diatas tentu tidak layak lagi.
4.  Eksternalitas konsumen terhadap konsumen. Eksternalitas konsumen terhadap konsumen terjadi ketika kegiatan suatu konsumen mempengaruhi utilitas konsumen lain. Ketika seseorang secara seenaknya menggunakan jalan hal itu dapat membahayakan tidak hanya dirinya sendiri melainkan penggunalainnya.

Permasalahan eksternalitas juga akan menimbulkan persoalan sebuah paradigma  ketika kita tidak bisa begitu saja menggeser tingkat utilitas seseorang untuk meningkatkan utilitas oranglainnya. Seperti yang tercermin dalam kondisi pareto optimal. Disinilah peran pemerintah sebagai pihak ketiga (3) untuk mencari jalan keluar. Eskternalitas adalah persoalan yang tidak bisa ditanganin  oleh mekanisme pasar.
Gambar 2.10.

Edgeworth Box




                                 http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Edgeworth_box.jpg.png

            Pigovian tax, merupakan salah satu solusi mengatasi permasalahan eksternalitas. Pigovian tax, menekankan pengenaan pajak kepada perusahaan yang mengakibatkan eksternalitas.  Kelemahan solusi ini adalah ada kemungkinan tidak tersalurnya pajak dari pemerintah kepada orang yang dirugikan akibat eksteksternalitas.
 Gambar 2.11.
Pigovian Tax



               
Ketika pajak dikenakan  kepada perusahaan maka yang akan terjadi perusahaan dapat membebankan biaya tersebut kepada konsumen. Hal tersebut dapat sebut  Market Allocation With Polution. Contoh ketika pajak dikenakan kepada rokok sebesar 30 %  seketika itu perusahaan akan menggeser beban tersebut kepada konsumen sehingga harga rokok dipasar akan naik. Diharapakan dampak yang ditimbulkan oleh rokok yang berbahaya tidak hanya kepada si konsumen tetapi lingkungan sekitarnya akan berkurang.
Gambar 2.12.
Pergeseran kurva supply perusahaan akibat dikenakan pajak.

  
Solusi lainnya dalam menghadapi eksternalitas adalah an emissions strandart. Seperti yang tercermin pada kurva dibawa ini penerapan standart memaksa perusahaan untuk mengurangi polusi pada tingkat yang sudah ditentukan.  Di Indonesia sendiri penerapan emissions standart seperti Euro 3 dimana menargetkan semua kendaraan roda dua yang beredar dalam negri harus menggunakan sistem ijenksi. Selain itu industrinya sendiri didesak untuk aktif menanggulangi dampak lingkungan seperti menetapkan ambang batas kebisingan. Tetapi Sigit Kumala selaku Head of Commercial Affairs Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) “ seluruh  pabrik  motor  yang  ada di Indonesia sebenarnya sudah siap beranjak dari standar Euro 2 ke Euro 3, asalkan bahan bakar yang beredar sekarang kualitasnya meningkat. Sebab teknologi Euro 3 dianggap akan sia-sia saja bila kualitas bahan bakar yang beredar sekarang masih jelek “ (http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/84439)
Gambar 2.13.
Demand, Supply and Penalty per unit of excess emissions




                          

Sepanjang kurva S, perusahaan dipaksa untuk mengurangi polusi pada batas yang tetapkan. Ketika melewati batas maka perusahaan akan dikenakan denda. Sama halnya dengan penerapan pigovian Tax, denda ini bisa saja tidak berarti jika tidak langsung diberikan kepada masyarakat yang terkena eksternalitas.
2.1.4  Effek Rumah kaca
Efek rumah kaca, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. ( Joseph Fourier ; 1824 ).
Gambar 2.14.
Proses Terjadinya Efek Rumah Kaca.




  Sumber : http://mediageografi2011.blogspot.com 


 Proses terjadinya efek rumah kaca dikarenakan terperangkapnya partikel–partikel diatmosfer yang menyebabkan panas yang pancarkan oleh matahari tidak bisa kembali keluar dari bumi melainkan terpantul kembali seperti yang tejadi pada gambar  2.10. partikel– partikel ini bisa disebabkan oleh faktor alami seperti debu, atau zat yang secara alami terangkat ke permukaan atmosfer ( contoh dalam sekali letusan gunung merapi akan melepaskan berbagai macam zat ke atmosper ) tetapi kondisi ini dapat dikatakan tidak  mempengaruhi proses terjadinya efek rumah kaca secara signifikan dibandingkan dengan partikel yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor atau kegiatan produksi industri. Yang paling berpengaruh adalah faktor yang disebabkan oleh manusia. Konsumsi akan bahan bakar ( minyak, batu bara, gas dll.) menjadi faktor utama terjadinya gas rumah kaca. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa sektor perternakan, dan juga penggunaan alat – alat elektronik yang tidak ramah lingkungan.
Secara presentase kita energi yang masuk ke Bumi:
·            25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer.
·            25% diserap awan.
·            45% diserap permukaan bumi.
·            5%  dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi.
Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC) Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Akibat
             Dapat dilihat jika suhu bumi meningkat, hal ini akan memicu pencairan es pada kedua kutub bumi. Pemanasan global yang terjadi tidak hanya berdampak kepada rusaknya ekosistem yang berada di bumi melainkan memberi dampak negative kepada manusia. Sinar ultraviolet yang tertahan di bumi paling tidak akan berdampak kepada kerusakan jaringan kulit dan salah satu yang terparah dapat menyebabkan kanker kulit.

2.1.5 Penelitian Sebelumnya
Fauzi mengungkapkan beberapa point dimana sektor peternakan menghasilkan emisi yang begitu besar: (1) Pemeliharaan hewan ternak memerlukan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, dll. (2) Transportasi yang digunakan, baik untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung peternakan lainnya (obat-obatan dll) menghasilkan emisi karbon yang signifikan.(3) Peternakan menyedot begitu banyak sumber daya pendukung lainnya, mulai dari pakan ternak hingga obat-obatan dan hormon untuk mempercepat pertumbuhan.(4) Peternakan membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Demi pembukaan lahan peternakan, begitu banyak hutan hujan yang dikorbankan. Hal ini masih diperparah lagi dengan banyaknya hutan yang juga dirusak untuk menanam pakan ternak tersebut (gandum, rumput, dll). (5) Hewan-hewan ternak seperti sapi adalah polutan metana yang signifikan. (6) Limbah berupa kotoran ternak mengandung senyawa NO (Nitrogen Oksida) yang notabe 300 kali lebih berbahaya dibandingkan CO2. (http://nasimfauzi.blogspot.com)

Goodland dan Anhang (2006), melalui bulletin world watch magazine edisi November meninjau ulang baik secara langsung maupun tidak langsung sumber – sumber emisi gas kaca mendapati sektor peternakan juga menyumbang emisi yang cukup besar. Setidaknya 13,7% dari total emisi gas rumah kaca dunia disumbangkan oleh pernapasan ternak. Walaupun tidak sebesar pernapasan ternak penggunaan lahan yang berlebihan terhadap sektor peternakan berkisar 4,2% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Efek gas metana yang dihitung rendah ternyata menyumbang 7,9% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Robert juga menyebutkan katagori lainnya yang diabaikan menjcapai 8,7% dan katagori salah alokasi mencapai 4,7% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Ketika jumlah tambahan yang dihitung oleh Goodland dan Anhang ini ditotalkan dengan jumlah emisi gas di seluruh dunia, maka ia sebenarnya akan menjadi 18% bukan hanya 11,8% dari 7,516 juta ton gas CO2 seperti yang diperkirakan sebelumnya oleh FAO.
The New York Times mendapati bahwa beberapa fakta mengenai sektor peternakan sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca :
  1. Pemeliharaan hewan ternak memerlukan energi listrik untuk lampu-lampu dan perelatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin potong dll. Sala satu inifesiensi listrik terbesar adalah dari mesin pendingin daging. Baik yang ada dipeternakan maupun yang ada di distributuor sebelum daging tersebut sampai di rumah.
  2. Transportasi yang digunakan baik untuk mengankut hewan ternak, makanannya, sampai pada elemen pendukungnya yang menghasilkan emisi carbon.
  3. Peternakan menyedot begitu banyak sumber daya pendukung seperti pangan ternak, obat-obatan dan hormone untuk mencapai pertumbuhan. Mungkin sepintas seperti pendukung pertumbuhan ekonomi. Tetapi kita tidak membayangkan berapa emisi yang dikeluarkan oleh sektor pendukung tersebut.
  4. Peternakan tidak membutuhkan lahan yang sedikit. Demi untuk pembuakaan lahan, begitu banayak hutan hujan yang dikorbankan. Hal ini masih diperparah dengan banyaknya hutan menjadi sektor penyedia pangan ternak.
  5. Hewan ternak seperti sapi adalah polutan metana yang terbesar. Sapi secara alamiah akan melepasakan metan dari dalam perutnya selama proses mencerna makanan. Seperti yang kita ketahui metan merupakan gas denagan emisi gas rumah kca yang 23 kali lebih buruk dari co2.
  6. Limbah berupa kotoran hewan mengandung senyawa NO(nitrogen oksida) yang mempunyai potensi 300 lebih berbahaya dibandingkan dengan CO2. Di Amerika tidak kurang dari 39,5 ton kotoran dihasilkan per detik.

Hal ini didukung oleh beberapa ahli seperti fisikawan Noam Mhor dari institut Politenknik Universitas New York yang menyatakan bahwa Pernyataan PBB bahwa 18% emisigas rumah kaca disebabkan oleh sektor peternakan hanya dilihat dari jangka panjang. Jika dilihat dari jangka pendek akan memberikan dampak yang sangat besar. Lebih lanjut beliau menambahkan saat kita mempertimbangkan Aeorosol atau partikel-partikel yang dilepaskan bersamaan dengan CO2 maka ; partikel-partikel yang dilepaskan bersamaan dengan CO2 bersifat memanaskan bumi sedangkan Aerosol bersifat mendinginkan. Yang artinya keduanya dapat saling menutupi. Tetapi bagaimana dengan emisi gas metan yang dihasilkan oleh peternakan ? (http://putri-janika.blogspot.com/2010_06_06_archive.html).
Qurimanasari (2011), yang meneliti tentang emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan oleh sektor peternakan di daerah Jawa Barat. Ia menemukan  faktor emisi metan dari fermentasi enterik baik menggunakan model I maupun model II sama yaitu faktor emisi tertinggi dimiliki oleh sapi perah yaitu 56 kg CH4 pada model I dan 165,94 kg CH4 pada model II dan faktor emisi terendah dimiliki oleh unggas yaitu 0 kg CH4 baik pada model I maupun model II. Faktor emisi metan dari fermentasi enterik tertinggi berdasarkan umur ternak baik pada sapi maupun pada kerbau adalah pada ternak dewasa (jantan dan betina) dan terendah adalah ternak pedet (jantan dan betina). Faktor emisi metan dari fermentasi enterik tertinggi pada sapi potong berdasarkan bangsa sapi potong adalah Sapi Limosin dan Sapi Simental dan terendah terdapat pada Sapi Peranakan Ongole (PO). Ternak Kerbau Kerja memiliki faktor emisi dari fermentasi enterik lebih tinggi Dari pada ternak kerbau potong. Faktor emisi metan dari manajemen manur baik menggunakan model I maupun model II sama yaitu faktor emisi tertinggi dimiliki oleh sapi perah yaitu 27 kg CH4 pada model I dan 6,562 kg CH4 yaitu sapi perah dengan sistem manajemen manur dry lot pada model II dan faktor emisi terendah dimiliki oleh unggas yaitu 0,023 kg CH4 baik pada model I maupun model II. Faktor emisi metan dari fermentasi enterik menggunakan model I lebih rendah dari pada model II sedangkan faktor emisi metan dari manajemen manur menggunakan model I lebih tinggi dari pada model II.
Sondakh (Maret, 2013) mengatakan bahwa produksi metan pada domba dapat dikurangi dengan menggunakan medium chain fatti acid (MFCA) pada pakan ternak. Dari penelitian yang melalui tiga tahapan dengan menggunakan MFCA  sebesar 1,5% pada pakan ternak  memberikan dampak menurunkan produksi gas metan sampai 25,30%. Penurunan gas metan dimungkinkan karena peranan MFCA pada bungkil kelapa sebagai agen defunasi yang mampu menghambat aktivitas protozoa. Protozoa merupakan agen yang berfungsi menyatukan metanogenik dengan cilietnya secara simbiosis sehingga menyebabkan gas metan. (http://www.suaramerdeka.com)
Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak. Menurut laporan Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan - Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock’s Long Shadow–Environmental Issues and Options), peternakan adalah  penggerak utama dari penebangan hutan kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu.
( http://ceriabumiku.blogspot.com/p/penyebab.html)
Menurut Mc Michael (2007) merupakan fakta yang sangat jelas bahwa peningkatan konsumsi produk hewan diseluruh dunia bukan akibat peningkatan konsumsi produk hewan oleh orang miskin yang tidak bisa makan daging, akan tetapi akibat orang kaya yang mengonsumsi semakin banyak produk hewan. Konsumsi produk hewan secara berlebihan khususnya daging, merupakan penyebab utama terjadinya peningkatan jumlah orang yang menderita kegemukan secara global .
permasalahan lain di bidang sosial ekonomi peternakan dibanding rekomendasi pengurangan produksi peternakan dan penurunan konsumsi daging, adalah peternakan berkesinambungan, dimana kriteria dari peternakan yang berkesinambungan adalah peternakan harus tetap memperhatikan ekologi lingkungan, pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan sosial, dan kemanusiaan. Menurut  Pretty JN et. al.(2000) kriteria tersebut dapat dicapai oleh sistem peternakan bukan industri yang intensif  melainkan peternakan berbasis keluarga, yang relatif berskala kecil, dan berbasis lokal merupakan kerangka yang terbaik untuk meraih seluruh tujuan yang diinginkan yakni guna mencapai keamanan pangan, stabilitas sosial, dan kesinambungan lingkungan.
Steinfeld H. et. al.,(2006) mengungkapkan Peternakan berbasis keluarga, yang relatif berskala kecil, dan berbasis lokal dapat mengembalikan produktifitas lahan, terlebih lagi ternak yang dikelola dengan baik di peternakan yang ektensif dengan menggunakan sumberdaya lokal, mengolah kembali produktifitas tanah dan pemberian pakan rumput pada ternak tidak hanya akan mengurangi dampak buruk industrialisasi ternak terhadap kesinambungan, akan tetapi juga dapat memiliki dampak positif yang nyata karena rumput juga dapat menyerap karbon. Penyimpanan atau penyerapan karbon dapat diperkuat oleh manajemen tanah seperti pelestarian dan penggarapan tanah, ditambah lagi dengan membiarkan 30 persen atau lebih dari sisa-sisa palawija dipermukaan tanah setelah penanaman rerumputan merupakan lahan terbanyak yang digunakan manusia maka daripada itu memiliki potensi untuk menyerap lebih banyak karbon dibandingkan dengan tumbuhan lainnya.

2.1.6 Kerangka Pemikiran.

Gambar 2.15
Kerangka pemikiran









Kerangka pemikiran diatas menjelaskan bahwa sektor peternakan dapat menyumbang emisi gas rumah kaca yang secara langsung. Untuk itu diperlukannya peran pemerintah untuk mengontrol sektor peternakan agar tidak menyumbang emisi gas rumah kaca lebih besar . Terlepas dari kebutuhan dasar manusia terhadap sektor tersebut sebagai kebutuhan dasarnya.
2.1.7 Hipotesis

            Berdasarakan uraian diatas maka “ diduga bahwa peran sektor peternakan di Kota Banda Aceh tidak signifikan”.




 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1     Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kawasa Kota banda Aceh yang berada di Kecamatan Syiah Kuala .

3.2     Jenis Penelitian           
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif yang pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Metode penelitian deskriptif kuantitatif juga banyak di lakukan oleh para penelitian karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif.  Kedua, metode deskriptif kuantitatif sangat berguna untuk
mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia. Dengan menggunakan survei, penelitian deskriptif kuantitatif dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang telah ada. Tujuan penelitian deskriptif kuantitatif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistemastis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar masalah yang diselidiki.



3.3    Jenis Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang peneliti kumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan survei langsung ke kawasan peternakan. Dengan melakukan wawancara langsung kepada para masyarakat yang termasuk kedalam sampel penelitian diharapkan hasil yang diperoleh mampu menjawab permasalahan yang ada. Data primer yang dikumpulkan secara langsung dari lapangan hasil dari survei dengan menggunakan kuisioner. Data sekunder pada dasarnya merupakan bagian dari literatur review. Sumber data dari survei data sekunder ini adalah publikasi-publikasi statistik yang dikeluarkan pemerintah, lembaga penelitian sebelumnya dan laporan studi yang terkait yang dapat dijadikan sebagai pendukung dan penunjang dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.
3.4  Model Analisis
          Valuasi ekonomi adalah pemberian nilai ekonomi terhadap semua manfaat dan jasa yang di sediakan oleh sumberdaya. Nilai total valuasi ekonomi tersebut sangat penting diketahui dalam perencanaan wilayah. Secara khusus penelitian ini untuk mengetahui berapa besar cost yang akan kita keluarkan ketika sektor peternakan turut menyumbang emisi gas rumah kaca.
          Pertama, diasumsikan bahwa  satu fungsi dari peternakan  adalah sebagai sebagai usaha untuk mengembangbiakan binatang ternak, pendekatan perhitungan nilai ekonomis sekor peternakan  adalah tempat usaha ternak, sehingga untuk mendapatkan nilai ekonomi menghitung berapa cost yang kita butuhkan untuk mengganti sebagai akibat pemicu emisi gas rumah kaca di dekati dengan cara membandingkan antara berapa nilai ekonomis suatu peternakkan dengan dampak yang ditimbulkannya.
          Kedua, agar valuasi ekonomi dengan cara perbandingan nilai tersebut lebih konkret, maka perbandingan tersebut dilakukan dengan cara membandingkan Jenis dan luas lahan peternakan. Jika perbedaan Jenis dan luas lahan peternakan tidak signifikan, maka dapat dikatakan  bahwa sektor peternakan tidak mempegaruhi emisi gas rumah kaca.
          Rumus yang digunakan untuk melakukan pendekatan perhitungan valuasi ekonomi berapa cost yang dikeluarkan sebagai akibat pertumbuhan sektor peternakan dalam mempengaruhi emisi gas rumah kaca adalah sebagai berikut:



Keterangan:


Σx1dan Σx22    =  jumlah kuadrat sampel
n1  dan n2         =  jumlah anggota sampel

3.5 Definisi Operasional Variabel
          Berdasarkan Rumus yang digunakan dalam melakukan pendekatan perhitungan nilai ekonomi  sektor peternakan maka definisi dari operasional variabel-variabel yang merupakan subjek penelitian ini adalah:

1) Total Nilai Ekonomi (Total Econimic Value), yang dilambangkan dengan t adalah perbandingan antara cost dan dampak yang ditimbulkan sektor perternakan terhadap lingkungan. (Satuan dalam Rupiah)
2)   Σx  adalah standar deviasi sampel
                                                                                                                                         



 salam newbie













                                                                                                            









0 komentar:

Posting Komentar