Rabu, 19 Juni 2013

LAPORAN HASIL PENELITIAN : PEDAGANG/PENJUAL PAKAIAN KIOS-KIOS KECIL DI KOTA BANDA ACEH


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Berdagang menjadi salah satu profesi yang diminati masyarakat di seluruh dunia. Sejak zaman Rasulullahpun berdagang menjadi sumber mata pencaharian serta tempat terjalinnya komunikasi antara masyarakat. Rasulullah sangat menyarankan pekerjaan berdagang sebagai sumber pekerjaan. Di Indonesia sendiri berdagang sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Masyarakat Indonesia mengenal berdagang dari penjajah yang ingin menguasai nusantara. Tak terkecuali masyarakat Aceh.
 Pekerjaan masyarakat Aceh secara umum  adalah  sebagai pegawai negeri sipil, pegawai swasta, nelayan, pedagang. Berdagang sendiri kini menjadi pilihan banyak digeluti masyarakat.  Berdagang merupakan pilihan  yang wajar ketika kita melihat berubahnya pola hidup masyarakat Aceh yang  mana  terjadi peningkatan pendapatan rata-rata masyarakat Aceh menjadi sala satu  pertimbangan para calon pedagang-pedagang ini.
Banyaknya  pedagang-pedagang yang memilih untuk menjual pakaian merupakan suatu fenomena yang lazim kita lihat di kota Banda Aceh. Dapat  kita jumpai di sepanjang jalan kota Banda Aceh berdirinya pedagang pakaian mulai dari pedagang dengan modal yang besar, brand yang ternama sampai dengan pedagang pakaian yang memliki modal yang kecil.                             
Banyaknya minat masyarakat terhadap usaha pakaian inilah yang kemudian menimbulkan permasalahan yang layak untuk dibahas. Beberapa hal yang menjadi  pusat penelitian kami adalah pedagang pakaian yang memiliki modal yang kecil tersebut, mencakup pendapatannya, biaya yang dikeluarkan, permintaan konsumen, dan aspek sosialnya serta ketimpangan yang terjadi terhadap pedagang pakaian yang memiliki modal yang besar.
Penelitian ini akan menunjukkan sejauh mana kontribusi pedagang pakaian yang bermodal kecil tersebut terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di kota Banda Aceh, penelitian ini juga nantinya akan mencari tahu bahwa pedagang pakaian yang memiliki modal kecil tersebut mampu menaikkan taraf hidup sipedagang tersebut di tengah-tengah persaingan terhadap penjual pakaian yang lain. Alasan pedagang pakaian tersebut dalam mendirikan suatu usaha juga menjadi daya tarik kami untuk melakukan penelitian.
Oleh karena itu, penelitian ini memiliki maksud membuat suatu rancangan dasar bagi pemahaman kita tentang pedagang pakaian kecil. Kita tidak akan mengerti ataupun memahami jika kita tidak berusaha untuk meneliti fenomena tersebut.. Semoga penelitian ini dapat membuka wawasan kepada semua pihak.





1.2. Rumusan Masalah.

a.       Berpakah pendapatan penjual pakaian  kios kecil di Kota Banda Aceh ?
b.      Apakah pendapatan yang diperoleh oleh penjual pakaian tersebut mampu memenuhi kecukupan hidup penjual pakaian dan keluargannya ?
c.       Apa alasan penjual pakaian tersebut memilih profesi ini ?
d.      Bagaimanakah iklim persaingan usaha penjualan pakaian di Kota Banda Aceh ?
e.       Apakah hambatan-hambatan yang dihadapi penjual pakaian  kios - kios kecil di Kota Banda Aceh?

1.3. Tujuan Penelitian

1.      Untuk mengetahui  tingkat pendapatan penjual kios-kios di Banda Aceh.
2.      Untuk mengetahui kecukupan pendapatan di keluarganya.
3.      Untuk mengetahui alasan mengapa penjual pakaian memilih usaha berjualan pakaian.
4.      Untuk mengetahui iklim persaingan diantara para penjual pakaian di Kota Banda Aceh.
5.      Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi penjual pakaian di Kota Banda Aceh.


1.4. Manfaat penelitian
a.       Dapat dijadikan sebagai refrensi bagi siapa saja yang hendak memilih usaha berdagang pakaian.
b.  Dapat dijadikan sebagai indikator dalam menilai bagaimana perekonomian di daerah Kota Banda Aceh.
c.    Menjadi rujukan bagi pihak yang hendak meneliti tentang perdagangan khususnya di Kota Banda Aceh.
1.5. Metodologi Penelitian
1.5.1.      Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini difokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan   perdagangan di Kota Banda Aceh khususnya para pedagang pakaian kios kecil, masyarakat, dan pemeritah Kota Banda Aceh.
1.5.2    Lokasi
Adapun yang menjadi lokasi penelitian  kecamatan Baiturrahman, Kecamatan Kuta Raja, dan Kecamatan Ulee Kareng yang kami anggap sebagai central perekonomian  di Kota Banda Aceh.
1.5.3    Populasi dan Sample
Sejauh pengamatan kami jumlah populasi pedagang kios kecil yang berada di 3 kecamatan 100 pedagang. Adapun teknik pengambilan sample yang kami gunakan adalah menggunakan tekhnik pengambilan sampel Non-Probability Sampling dengan pola Incident yaitu responden yang terlebih dahulu kami temui dijadikan sampel sampai kuota sampel terpenuhi.
1.5.4   Teknik penarikan sampel.
Adapun dalam penelitian ini kami menggunakan teknik Purposive sampling.
1.5.5   Data dan Sumber Data.
Data yang dibutuhkan adalah data primer. Data primer didapatkan dari responden selain itu juga digunakan data sekunder dari dinas terkait.
1.5.6   Teknik Pengumpulan Data.
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian adalah observasi langsung, Teknik langsung adalah Teknik menggunakan wawancara ( interview ) / memberikan kuisioner ( daftar pertanyaan ), dan dengan menggunakan observasi ( pengamatan ) secara langsung.
1.5.7   Teknik Analisis Data.
Dalam penelitian ini kami menggunakan Teknik deskritif Kualitatif.


 BAB  II
STUDI KEPUSTAKAAN
2.1. landasan Teori.
2.1.1. Pedagang dan Perdagangan.
Pedagang adalah orang yang melakukan perdagangan, memperjualbelikan barang yang tidak diproduksi sendiri, untuk memperoleh suatu keuntungan.
Pedagang dibedakan menjadi:
1.      Pedagang Besar (grosir atau wholesaler) adalah pedagang yang membeli barang dan menjualnya kembali kepada pedagang yang lain. Pedagang besar selalu membeli dan menjual barang dalam partai besar.
2.      Pedagang Eceran (retailer) adalah pedagang yang membeli barang dan menjualnya kembali langsung kepada konsumen. Untuk membeli biasa partai besar, tetapi menjualnya biasanya dalam partai kecil atau per-satuan.
3.      Pedagang merupakan salah satu saluran distrubusi. Pengertian dari saluran distribusi sendiri adalah sebagai orang atau lembaga yang kegiatannya menyalurkan barang dari produsen sampai ke tangan konsumen dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.
Winardi (1986:167) adalah ”Pedagang  adalah orang yang dengan modal yang relatif sedikit melaksanakan aktifitas produksi dalam arti luas (produksi barang, menjual barang dan menyelenggarakan jasa) untuk memenuhi kebutuhan kelompok konsumen tertentu dalam masyarakat usaha yang mana dilaksanakan ditempat-tempat yang dianggap strategis dan ekonomis dalam suasana lingkungan yang informal”.
      Perdagangan atau perniagaan adalah kegiatan tukar menukar barang atau jasa atau keduanya. Pada masa awal sebelum uang ditemukan, tukar menukar barang dinamakan barter yaitu menukar barang dengan barang. Pada masa modern perdagangan dilakukan dengan penukaran uang. Setiap barang dinilai dengan sejumlah uang. Pembeli akan menukar barang atau jasa dengan sejumlah uang yang diinginkan penjual. Dalam perdagangan ada orang yang membuat yang disebut produsen. Kegiatannya bernama produsen. Jadi, produsen adalah kegiatan membuat suatu barang. Ada juga yang disebut distribusi. Distribusi adalah kegiatan mengantar barang dari produsen ke konsumen. Konsumen adalah orang yang membeli barang. Konsumsi adalah kegiatan menggunakan barang dari hasil produksi.
2.1.2. Pendapatan.
           Dalam bisnis, pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh perusahaan dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk dan/atau jasa kepada pelanggan. Bagi investor, pendapatan kurang penting dibanding keuntungan, yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah dikurangi pengeluaran.
      Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi. Secara garis besar pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah perubahan penilaian yang bukan diakibatkan perubahan modal dan hutang.( pendapatan menurut standart akuntansi keuangan no. 23 )
2.1.3. Teori permintaan (demand) dan penawaran (supply).
2.1.3.1. Teori permintaan (demand).
              Permintaan adalah keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu. Singkatnya permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu.
Hukum Permintaan :
      “ Jika harga barang/jasa relatif makin rendah maka permintaan terhadap barang/jasa tersebut akan lebih besar dan sebaliknya,jika barang makin tinggi maka permintaan atas barang tersebut akan semakin menurun,cateris paribus yakni menganggap faktor-faktor lain dianggap tetap (constant). Beberapa faktor penentu permintaan adalah :
a)      Harga barang itu sendiri.
b)      Harga barang lain yang berkaitan erat dengan barang tersebut.
c)      Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat.
d)     Corak distribusi dalam pendapatan masyarakat.
e)      Cita raa masyarakat
f)       Jumlah penduduk
g)      Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang
Kurva Permintaan.
Kurva Permintaan Adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan antara suatu barang tertentu dengan jumlah barang tersebut yang diminta para pembeli.



Gambar1. Kurva pemintaan.



2.1.3.2. Teori Penawaran
Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan atau jual pada bebrbagai tingkat harga selama satu periode waktu tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran:


1. Harga barang itu sendiri. Jika harga suatu barang naik, maka produsen cenderung akan menambah jumlah barang yang dihasilkan. Hal ini kembali lagi pada hokum penawaran.
2. Harga barang lain yang terkait. Apabila harga barang subtitusi naik, maka penawaran suatu barang akan bertambah, dan sebaliknya. Sedangkan untuk barang complement, dapat dinyatakan bahwa apabila harga barang komplemen naik, maka penawaran suatu barang berkurang, atau sebaliknya.
3. Harga faktor produksi. Kenaikan harga faktor produksi akan menyebabkan perusahaan memproduksi outputnya lebih sedikit dengan jumlah anggaran yang tetap yang nantinya akan mengurangi laba perusahaan sehingga produsen akan pindah ke industri lain dan akan mengakibatkan berkurangnya penwaran barang.
4. Biaya produksi. Kenaikan harga input juga mempengaruhi biaya produksi. Bila biaya produksi meningkat, maka produsen akan mengurangi hasil produksinya, berarti penawaran barang berkurang.
5. Teknologi produksi. Kemajuan teknologi menyebabkan penurunan biaya produksi, dan menciptakan barang-barang baru sehingga menyebabkan kenaikan dalam penawaran barang.
6. Jumlah pedagang/penjual. Apabila jumlah penjual suatu produk tertentu semakin banyak, maka penawaran barang tersebut akan bertambah.
7. Tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan adalah memaksimumkan laba buka hasil produksinya. Akibatnya tiap produsen tidak berusaha untuk memanfaatkan kapasitas produksinya secara malksimum, tetapi akan menggunakannya pada tingkat produksi yang akan memberikan keuntungan maksimum.
8. Kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk mengurangi komoditas impor menyebabkan supply dan keperluan akan kebutuhan tersebut dipenuhi sendiri sehingga dapat meningktakan penawaran.

Hukum Penawaran
“Semakin tinggi harga suatu barang, semakin banyak jumlah barang tersebut akan ditawarkan oleh para penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang, semakin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan.”

Kurva Penawaran
Kurva penawaran dapat didefinisikan sebagai : “Yaitu suatu kurva yang menunjukkan hubungan diantara harga suatu barang tertentu dengan jumlah barang tersebut yang ditawarkan”.


Gambar 2. Kurva Penawaran.









-  Kalau penawaran bertambah diakibatkan oleh faktor-faktor di luar harga, maka supply  bergeser ke kiri atas.
-  Kalau berkurang kurva supply bergeser ke kiri atas.
-  Terbentuknya harga pasar ditentukan oleh mekanisme pasar.




Keseimbangan permintaan dan penawaran
Dalam ilmu ekonomi, harga keseimbangan atau harga ekuilibrium adalah harga yang terbentuk pada titik pertemuan kurva permintaan dan kurva penawaran. Terbentuknya harga dan kuantitas keseimbangan di pasar merupakan hasil kesepakatan antara pembeli (konsumen) dan penjual (produsen) di mana kuantitas yang diminta dan yang ditawarkan sama besarnya. Jika keseimbangan ini telah tercapai, biasanya titik keseimbangan ini akan bertahan lama dan menjadi patokan pihak pembeli dan pihak penjual dalam menentukan harga. Dengan kata lain Harga keseimbangan adalah harga dimana baik konsumen maupun produsen sama-sama tidak ingin menambah atau mengurangi jumlah yang dikonsumsi atau dijual.
  


Gambar 3. Kurva keseimbangan anatara Permintaan dan Penawaran.






2.1.4. Penelitian Sebelumnya.
Mursid (1997:25) Berdasarkan jawaban dari tabel angket berupa pertanyaan pertanyaan yang disebarkan kepada para pedagang pakaian menunjukkan bahwa para pedagang pakaian di Pasar Wonokromo adalah pedagang lama, terbukti para pedagang rata-rata empat tahun ke atas. Kemudian, terkait dengan pengetahuan tentang pengambilan keuntungan harga bahwa hampir semua masyarakat tidak mengetahui tentang pengambilan keuntungan walaupun sebagian ada jebolan dari pesantren. Dalam praktek pengambilan keuntungan pada para pedagang pakaian mayoritas menawarkan dengan harga tinggi agar mendapat keuntungan yang lebih besar. Disamping itu, para pedagang menyatukan barang yang kwalitas baik dengan barang sutiran. Praktis, jika pembeli tidak hati-hati dalam memilih barang maka akan mendapatkan barang sutiran tersebut.
 Indaryani,( 2009) meneliti tentang “ENTITAS IMPERATIF PEDAGANG PAKAIAN DI PASAR MOJOAGUNG:SEBUAH KAJIAN SOSIOPRAGMATIK” menemukan Berdasarkan hasil perian terhadap entitas imperatif pedagang pakaian di pasar Mojoagung, dapat disimpulkan bahwa wujud dan makna entitas imperatif tertinggi adalah wujud dan makna imperatif suruhan, dengan persentase 21,88%. Frekuensi wujud dan makna imperatif kedua adalah imperatif permintaan, dengan persentase 16,66%. Frekuensi wujud dan makna imperatif ketiga adalah imperatif larangan, dengan persentase 13,54%. Frekuensi wujud dan makna imperatif keempat adalah imperatif anjuran, dengan persentase 10,42%. Frekuensi wujud dan makna imperatif kelima adalah imperatif imbauan, dengan persentase 9,37%. Frekuensi wujud dan makna imperatif keenam adalah imperatif bujukan, dengan persentase 8,33%. Frekuensi wujud dan makna imperatif ketujuh adalah imperatif perintah dan persilaan, masing-masing mendapat persentase 7,30%. Frekuensi wujud dan makna imperatif kedelapan adalah imperatif desakan, dengan persentase 5,20%, dan frekuensi imperatif permohonan, ajakan, permintaan izin, mengizinkan, harapan, umpatan, ucapan selamat dan ngelulu tidak muncul sama sekali, yakni 0%.

 Febriyanti dalam “Mengapa Pedagang Bersedia Berdagang di Daerah yang Sulit Dijangkau? (Modernisasi warga Wonosido Lebakbarang Pekalongan)” menemukan Dari semua pedagang yang datang ke wonosido dan melakukan transaksi jual-beli tersebut, merekalah yang menentukan harga. Warga dapat menawar maupun menaikkan harga namun dengan selisih yang sangat sedikit. Hal tersebut terjadi karena warga merasa malas menjual maupun membeli di luar wilayahnya karena lokasi pasar sulit di tempuh dari desa mereka. Apalagi penjual tersebut sebagaian besar mau menerima pembayaran warga sambil menunggu waktu panen tiba. Di tambah biaya transportasi yang mereka tanggung juga banyak. Sehingga mereka lebih suka membeli dari pedagang yang datang. Sedangkan pedagang yang datang merasa sangat diuntungkan, karena warga tidak tahu harga pasar, mereka dapat menentukan harga sesuka hati. Apalagi bila kemalaman, mereka dapat bermalam dan mendapatkan makanan secara Cuma-Cuma. Dengan untung yang berlipat ganda dan kebaikan warga sebagai orang desa, tidak heranlah bila banyak warga luar Wonosido yang mau berdagang di sana meskipun lokasinya sulit di tempuh.
2.1.4. kerangka Pemikiran.


 







           


Seperti yang terlihat pada gambar chart diatas kami ingin melihat apakah pedagang mempengaruhi perekonomian daerah yang akan diteliti secara langsung maupun tidak langsung (berdampak kepada masyarakat terlebih dahulu baru berdampak kepada perekonomian) serta kami ingin melihat peran pemerintah mempengaruhi (1) kepada pedagang, (2) proses pedagang mempengaruhi perekonomian dan (3) peran pemerintah terhadap perekonomian langsung.

2.1.4. Hipotesis.
Kami menduga “ pedagang pakaian mempengaruhi perekonomian secara signifikan dan peran pemerintah tidak mempengaruhi secara signifikan”.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1     Objek Penelitian.
 Penelitian terhadap pedagang pakaian  dilakukan di kawasa Kota Banda Aceh yang berada di Kecamatan Kuta Alam, Baiturrahman, Syiah kuala.           
3.2    Jenis Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang peneliti kumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan survei langsung ke kawasan pedagang pakaian. Dengan melakukan wawancara langsung kepada para masyarakat yang termasuk kedalam sampel penelitian diharapkan hasil yang diperoleh mampu menjawab permasalahan yang ada. Data primer yang dikumpulkan secara langsung dari lapangan hasil dari survei dengan menggunakan kuisioner.
3.4  Model Analisis
          Adapun model yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif yang pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Metode penelitian deskriptif kuantitatif juga banyak di lakukan oleh para penelitian karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif.  Kedua, metode deskriptif kuantitatif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia. Dengan menggunakan survei, penelitian deskriptif kuantitatif dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang telah ada. Tujuan penelitian deskriptif kuantitatif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistemastis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar masalah yang diselidiki.
sekian dulu yah 
hasil dan pembahasan termasuk rahasia perusahaan yah ~_~
salam newbie







5 komentar: