SUPANDI
Fakultas
Ekonomi Universitas Syiah Kuala
ABSTRACT
In many case the export and impor
analysis variable dependency using Gross
Domestic product (GDP). In my opinion using GDP as variable is to large and
did’nt gives variable by right with
influence in analysis . This journal purpose to given how much inflation as dependent variable to
influence Mining
and Quarrying, manufacture, agriculture, and exchange rate with play role as
independency variable. To analysis I’m using vector auto regression (VAR). And
the estimed can using to give sees of the reader that the inflation in
Indonesia since 1997 until 2012 actual did’nt to influce in short term. This
is shown by the result of estimated impulse response function (IRF) test on
each variable, (2) all the variables together contribute to the other variables
as shown by the results of estimation Forecast Error Variance Decomposition
(FEVD) Test.
Keyword : VAR (Vector
Auto-Regressive) Test, KPSS Stationarity Test, Mining and Quarrying, manufacture, agriculture, and exchange rate.
PENDAHULUAN
Penulisan
atikel ini dimaksudkan melihat sejauh
mana perkembangan ekonomi Indonesia dinilai dari ketidakpastian variabel
agriculture, inflasi, manufacturing, Mining and Quarrying.
Jika pada artikel “Modeling volatility
and dependency of agricultural price and production indices of Thailand: Static
versus time-varying copulas” menggunakan price production index dan agriculture
price index sebagai variabel utama penulis menggunakan variabel inflasi,
manufacturing, Mining and Quarrying
sebagai referensi . Penggunaan variabel yang lain dimaksudkan karena tidak
banyaknya orang yang menggunakan variabel – variabel tersebut. Sepanjang tahun 1997
sampai 2012 Indonesia mengalami beberapa resesi yang cukup parah yang terjadi
pada tahun 1998.
Gambar
1. Fluktuasi inflasi (IF) dari tahun 1997 – 2012 (sumber data BI.go.id, BPS
2013 diolah)
Gambar 2. perkembangan inflasi (IF),
manufaktur (MF), Mining and Quarrying (MQ) dari tahun 1997 2012 (sumber data BI.go.id, BPS 2013 diolah)
Gambar 3. Perkembangan manufaktur (MF),
exchange rate (ER), dan inflasi (IF) dari tahun 1997 – 2012(sumber
data BI.go.id, BPS 2013 diolah)
Gambar 4. Perkembangan sektor manufaktur
(MF), agriculture (AGC), dan inflasi (IF) tahun 1997 – 2012(sumber
data BI.go.id, BPS 2013 diolah).
Meningkatnya utang luar
negri lebih disebabkan nilai tukar
rupiah terhadap dollar yang sangat jauh, serta melemahnya peranan sistem
perbankan menjadi faktor utama. Hal ini diperparah dengan tidak mampunya
pemerintah dalam menghadapi krisis yang menyebabkan menurunnya kepercayaan
pihak – pihak pendonor untuk membantu. Yang terakhir disebabkan oleh kondisi
politik yang tidak menentu. Dampaknya tidak hanya pada sektor moneter saja
tetapi juga mempengaruhi sektor rill (migas) Indonesia.
Menurunnya Ekspor migas dengan tajam dikarenakan melemahnya permintaan dunia
dan menurunnya harga minyak bumi di pasar internasional. Kabar baik pada saat
ini adalah dapatnya ekspor nonmigas
mengimbangi ekspor migas yang turun. Hal ini menunjukan dampak positif adanya depresiasi rupiah.
Sementara itu depresiasi rupiah telah menyebabkan kegiatan impor
melemah. Impor barang modal dan bahan baku tidak lagi dapat dipenuhi
dikarenakan kurang mampunya nilai rupiah dalam mengimbangi harga yang sudah
melonjak tinggi. Hal ini lah yang menjatuhkan sektor manufaktur yang sebagian
faktor produksi impor dari luar, dan terpaksa menutup usahanya. Adanya
penolakan L/C impor oleh perbankan luar negeri telah mengakibatkan semangkin
sulitnya kegiatan impor berjalan.
Institute management development mencatat setidaknya ada 4 kekurangan
Indonesia dalam persaingan : pertama, buruknya kinerja perekonomian nasional
yang tercermin dalam kinerja di perdagangan internasional, investasi,
ketenagakerjaan, dan stabilitas harga. Kedua, rendahnya efisiensi kelembagaan
pemerintahan dalam mengembangkan kebijakan pengelolaan keuangan negara dan
kebijakan fiskal, pengembangan berbagai peraturan dan perundangan untuk iklim
usaha kondusif. Ketiga, lemahnya
efisiensi usaha dalam mendorong peningkatan produksi dan inovasi secara
bertanggung jawab yang tercermin dari tingkat produktivitasnya yang rendah,
pasar tenaga kerja yang belum optimal, akses ke sumberdaya keuangan yang masih
rendah, serta praktik dan nilai manajerial yang relative belum profesional.
Keempat, keterbatasan infrastruktur, baik infrastruktur fisik, teknologi,
maupun infrastruktur dasar yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan
dan kesehatan (triwibowo, Potret
Industri Manufaktur Indonesia Sebelum dan Pasca Krisis (Suatu pendekatan
fungsi produksi Cobb-Douglas)).
TINJAUAN TEORITIS
1.
Inflasi
Secara teoritis inflasi dapat dikatakan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara
umum, terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya
likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk
juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Tapi kita tidak bisa
mengatakan bahwa harga naik sudah terjadi inflasi karena harga naik bisa
disebabkan dari proses transaksi. CPI dan GDP Deflator merupakan dua alat
paling umum yang digunakan untuk mengukur inflasi.
Berdasarkan penyebabnya secara umum :
1.1 Rasangan volume permintaan yang
berlebihan dapat mengakibatkan perubahan harga (demand pull- inflation)
1.2 Seperti yang tertera pada pengertian
diatas bahwa inflasi dapat disebabkan oleh tersendatnya faktor produksi, produksi
macet, barang menjadi langka, Akibatnya hargapun tinggi (cost push-inflation)
Berdasarkan dampaknya inflasi dapat diklasfikasi,
a.
Inflasi ringan (kurang dari 10% /
tahun)
b.
Inflasi sedang (antara 10% sampai 30%
/ tahun)
c.
Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
2.
Agriculture.
Menurut defenisi bahasa Indonesia
“Agriculture” adalah pertanian. Pertanian adalah usaha manusia dalam
memanfaatkan sumber daya hayati terhadap pemenuhan kebutuhan hidup (pangan). Suatu
usaha pertanian dapat melibatkan berbagai subjek dengan alasan efisiensi dan
peningkatan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan
aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga menjadi bagian dalam usaha
pertanian. Contohnya kehutanan merupakan subyek pertanian dengan karakteristik
lahan yang tidak dimanfaatkan (liar) biasanya tanaman berupa pohon.
Bentuk-Bentuk Pertanian Di Indonesia :
2.1.
Sawah.
Sawah adalah suatu bentuk pertanian yang dilakukan di lahan basah dan
memerlukan banyak air baik sawah irigasi, sawah lebak, sawah tadah hujan maupun
sawah pasang surut.
2.2.
Tegalan. Tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada
pengairan air hujan, ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari
lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat
pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau
lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian.
2.3.
Pekarangan. Perkarangan adalah suatu lahan yang berada di lingkungan dalam
rumah (biasanya dipagari dan masuk ke wilayah rumah) yang dimanfaatkan /
digunakan untuk ditanami tanaman pertanian.
2.4.
Ladang Berpindah. Ladang berpindah adalah suatu kegiatan pertanian yang
dilakukan di banyak lahan hasil pembukaan hutan atau semak di mana setelah
beberapa kali panen / ditanami, maka tanah sudah tidak subur sehingga perlu
pindah ke lahan lain yang subur atau lahan yang sudah lama tidak digarap.
Beberapa H asil-Hasil Pertanian Di
Indonesia :
1. Pertanian Tanaman Pangan
Padi, jagung, kedelai, kacang tanah, ubi
jalar, ketela pohon.
2. Pertanian Tanaman Perdagangan
Kopi, teh, kelapa, karet, kina, cengkeh,
kapas.
3. Mining
and Quarrying
Istilah
Mining and Quarrying dapat diartikan sebagai kegiatan pertambangan. Pertambangan
sendiri dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka upaya
pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan
bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, migas).
Beberapa
jenis pertambangan yang ada di Indonesia :
a.
Minyak bumi
Minyak bumi berasal dari mikroplankton
yang terdapat di danau-danau, teluk-teluk, rawa-rawa, dan laut-laut dangkal.
Sesudah mati,mikroplankton berjatuhan dan mengendap di dasar laut, kemudian
bercampur dengan lumpur yang dinamakan lumpur sapropelium. Akibat tekanan dari
lapisan-lapisan atas dan pengaruh panas magma terjadilah proses destilasi
hingga terjadilah minyak bumi kasar. Proses pembentukan minyak bumi memerlukan
waktu jutaan tahun. Daerah-daerah penghasil minyak bumi di Indonesia adalah
sebagai berikut: Pulau Jawa: Cepu, Cirebon, dan Wonokromo. Pulau Sumatera:
Palembang (Sungai gerong dan sungai Plaju) dan Jambi (Dumai) Pulau Kalimantan:
Pulau Tarakan, Pulau Bunyu, Kutai dan Balikpapan.
b.
Gas alam
Gas Alam merupakan campuran beberapa
(CH4 atau C2H6), propan, (C3H6) dan butan (C4H10) yang digunakan sebagai bahan
bakar. Ada 2 macam gas alam cair yang diperdagangkan, yaitu LNG dan LPG. LNG
(Liquified Natural Gas) atau Gas alam cair yang terdiri atas gas metan dan gas
etan, membutuhkan suhu sangat dingin supaya dapat disimpan sebagai cairan. Gas
alam cair diproduksi di Arun dan Badak, selanjutnya diekspor antara lain di
Jepang.LPG (Liquified Petrolium Gas) atau gas minyak bumi cair yang dipasarkan
dengan nama elpiji dalam tabung besi terdiri atas gas propan dan butan. Elpiji
inilah yang digunakan sebagai bahan bakar kompor gas atau penamas lainnya.
c.
Batu bara
Proses terbentuknya batu bara yang
dilakukan oleh bakteri anaerop dan sisa-sisa tumbuh-tumbuhan yang menjadi keras
karena beratnya sendiri. Jadi tidak ada kenaikan suhu dan tekanan. Proses ini
mengakibatkan tumbuh-tumbuhan berubahmenjadi gambut (turf).
Daerah tambang batu bara di Indonesia
adalah sebagai berikut:Ombilin dekat sawahlunto (sumatera Barat) menghasilkan
batu bara muda yang sifatnya mudah hancur. Bukit asam dekat Tanjung Enim
(palembang) menghasilkan batu bara muda yang sudah menjadi antrasit karena
pengaruh magma. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan
Selatan (Pulau laut/Sebuku) Jambi, Riau, Aceh, Papua (Irian Jaya).
4.
Manufacture.
Manufaktur
adalah suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin, peralatan dan tenaga
kerja dan suatu medium proses untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi
untuk dijual.
Istilah ini bisa digunakan untuk
aktivitas manusia, dari kerajinan tangan sampai ke produksi dengan teknologi
tinggi, namun demikian istilah ini lebih sering digunakan untuk dunia industri,
dimana bahan baku diubah menjadi barang jadi dalam skala yang besar. Manufaktur
ada dalam segala bidang sistim ekonomi. Dalam ekonomi pasar bebas,
manufakturing biasanya selalu berarti produksi secara masal untuk dijual ke
pelanggan untuk mendapatkan keuntungan. Beberapa industri seperti semikonduktor
dan baja lebih sering menggunakan istilah fabrikasi dibandingkan manufaktur. Sektor
manufaktur sangat erat terkait dengan rekayasa atau teknik.
TINJAUAN
EMPIRIS
Nofa Harry Regowo (2008) yang
meneliti Analisis integrasi kopra dunia dengan pasar kopra dan minyak goreng
kelapa domestik (menggunakan VAR) menemukan 1. Pasar kopra domestik dan pasar
minyak goreng kelapa domestik terintegrasi dengan pasar kopra dunia secara satu
arah. Kedua pasar domestik tersebut dipengaruhi oleh pasar kopra dunia, tetapi tidak
sebaliknya. Dalam hal ini pasar kopra dunia bertindak sebagai pemimpin harga,
sedangkan kedua pasar domestik sebagai pengikut harga. Hal ini terjadi sebagai
konsekuensi dari ciri globalisasi ekonomi dunia, di mana ekonomi internasional
tidak lagi merupakan bagian kecil dari ekonomi nasional suatu negara, tetapi
justru ekonomi nasional suatu negara yang merupakan bagian kecil dari ekonomi internasional,
sehingga pembentukkan harga kopra dan hasil olahannya yaitu minyak goreng
kelapa di Indonesia, di samping dipengaruhi oleh unsur biaya yang disebabkan
oleh panjangnya mata rantai perdagangan dan unsur biaya lain yang ada di dalam
kegiatan perdagangan domestik juga dipengaruhi oleh perkembangan harga yang
terjadi di pasar dunia.
2.
Pada pasar domestik, integrasi pasar yang terjadi antara pasar kopra domestik dan
pasar minyak goreng kelapa domestik merupakan integrasi pasar yang searah
karena hanya harga minyak goreng kelapa yang berpengaruh signifikan terhadap
harga kopra domestik, dan tidak sebaliknya. Hal ini disebabkan adanya struktur
pasar yang cenderung bersifat oligopsoni di mana pemegang hak oligopsoni ini
adalah pabrik minyak goreng kelapa. Selain itu, sebagian besar industri kopra
juga diusahakan oleh rakyat di mana sering kali memiliki bargaining position
yang rendah yang ikut pula mempengaruhi penerimaan harga kopra. Dengan adanya
integrasi pada pasar domestik tersebut, mengindikasikan adanya informasi pasar
yang baik akan menjadi sangat penting
karena dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar pelaku industri kopra.
Sampainya informasi pasar tentang tingkat mutu kopra kepada produsen akan
menyebabkan nilai tambah dari hasil pemasaran juga dinikmati oleh produsen.
Saimul dkk, (September, 2011) yang
meneliti analisis pengaruh export industri manufaktur pada kinerja makro
ekonomi Indonesia menemukan Hasih analisis menunjukkan (1) Guncangan ekspor
agroindustri manufaktur dalam jangka pendek dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi (0,10%), dan terhadap net ekspor, inflasi, dan nilai tukar memiliki dampak
negatif. Dalam jangka panjang guncangan ekspor agroindustri menurunkan kinerja makrokonomi
Indonesia yakni menurunkan pertumbuhan ekonomi, net ekspor, inflasi, dan nilai
tukar. Respon kinerja makroekonomi atas guncangan ekspor agroindustri rata-rata
mencapai keseimbangan pada periode ke-38. (2) Guncangan ekspor non-agroindustri
dalam jangka pendek berpengaruh positif pada kinerja makroekonomi yakni pada
pertumbuhan ekonomi, net ekspor, inflasi, dan nilai tukar. Dalam jangka panjang
guncangan ekspor non-agroindustri juga berdampak positif dengan kecenderungan meningkat,
sehinggga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, net ekspor, inflasi, dan
nilai tukar. Namun terhadap nilai tukar mengalami penurunan (apresiasi rupiah).
Respon kinerja makroekonomi atas guncangan ekspor non-agroindustri rata-rata
stabil pada periode ke 38.
METODE PENELITIAN
v Jenis Data dan Sumbernya
Dalam
penelitian ini menggunakan jenis data time series yaitu Inflasi, Agriculuture, Mining
and Quarrying, dan Exchange Rate dalam bentuk bulanan. Adapun data ini didapat
dari sumber (oanda.com) dan website BI (www.bi.go.id)
yang dimulai dari tahun 1997 – 2012.
v Variabel Penelitian
Dalam
penulisan artikel ini menggunakan data : Inflasi (IF),
Agriculuture (AGC), Mining and Quarrying (MQ), dan Exchange Rate (ER).
v Model
Analisis Data.
Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam dalam pengaplikasian model VAR,
antara lain :
1. Variabel
yang menyebabkan atau yang saling mempengaruhi yang dimasukkan kedalam sistem.
2. Pengikutsertaan
variabel jeda yang mampu melihat keterkaitan variabel satu dengan variabel
lainnya didalam sistem tersebut.
3. Menggunakan
uji kausalitas pada variabel yang akan dianalisis.
Dalam
menganalisa regressi hal yang perlu dilihat adalah ketergantungan/ hubungan
antara variabel agriculture sebagai variabel tetap ( dependen) dengan variabel
bebasnya (independen) : Inflasi (IF), Mining and Quarrying (MQ),
dan Exchange Rate (ER). Perlu diperhatikan bahwa,
Sedangkan dalam
penelitian penulis menggunakan :
IFt = α1 + a1i ∑ IF t-k + a1i ∑ AGC2 t-k +
a1i ∑ MQ t-k+ a1i ∑ ER t-k + εi
AGC2t = α2
+ a2i ∑ IF t-k
+ a2i ∑ AGC2 t-k + a2i ∑ MQ t-k+
a2i ∑ ER t-k + εi
MQ3t =
α3 + a3i ∑
IF t-k + a3i ∑ AGC2
t-k + a3i ∑ MQ t-k+ a3i ∑ ER t-k +
εi
ER4t =
α4 + a4i ∑
IF t-k + a4i ∑ AGC2
t-k + a4i ∑ MQ t-k+ a4i ∑ ER t-k +
εi
Dimana
:
IF = Inflasi
AGC
= Agriculture
MQ = Mining
and Quarrying
ER =
Exchange Rate
ε = Error Term ( Residual )
Hipotesisnya :
HO
= Tidak
terdapat VAR sampai order p pada residual
Ha
=
Terdapat VAR sampai order p pada residual
Penggunaan KPSS
stationarity bertujuan untuk melihat apakah masing – masing variabel stasioner
atau tidak. Pendekatan VAR menggunakan aplikasi EasyReg International :
Multiple Equation VAR Innovation Resposne Analysis.
Hipotesis dari KPSS Stationarity Test :
H0:
z(t) = x + q.t + u(t), dimana u(t) = 0
H1: z(t) = z(t-1) + x +
u(t)
HASIL DAN PEMBAHASAN
v Uji stationary
Dalam penulisan ini uji
stationary menggunakan KPSS stationary Test. Sesuai dengan hipotesis (Ho) maka
data tersebut stationer.
Sumber : Data Penelitian, diolah
menggunakan EasyReg
Berdasarkan
hasil diatas diketahui semua variabel siginfikan pada tingkat 5 % dan beberapa
variabel seperti DIF1[LN[AGC]], DIF1[LN[MF]], DIF1[LN[ER]] juga signifikan pada
tingkat 10%.
v Uji
Kausalitas Menggunakan Metode VAR
Untuk menguji hubungan antara
variabel dengan menggunakan (VAR) variabel terlebih dahulu sudah
distationerkan. Hal ini dapat di lihat pada tabel 1. Adapun hasil dari uji
kasualitas antara variabel :
1. Impulse
Response Function
Gambar
5. Pengaruh inflasi terhadap Mining
and Quarrying.
Seperti yang terlihat
pada gambar 5 bahwa dalam waktu 10 bulan inflasi tidak berpengaruh terhadap Mining
and Quarrying.
Gambar
6. Pengaruh inflasi terhadap Agriculture.
Gambar 6 menunjukan
bahwa inflasi berpengaruh terhadap agriculture dalam jangka pendek ( hanya butuh waktu 2 bulan untuk inflasi mempengaruhi agriculture).
Gambar
7. Pengaruh inflasi terhadap manufaktur.
Hal
yang sama terjadi pada sektor manufaktur dimana inflasi juga berpengaruh
terhadap sektor manufaktur dalam jangka pendek.
Gambar 8. Pengaruh inflasi terhadap exchange rate.
Tidak perlu diragukan lagi bahwa inflasi mempengaruhi nilai tukar mata uang. Hal ini secara simultan akan menunjukan kemampuan Negara dalam mengakomodir export – impornya.
1. Forecast
Error Variance Decomposition (FEVD)
·
Tabel 2. FEVD Inflasi
Apabila melihat tabel FEVD Inflasi kita dapat mengetahui bahwa
dalam jangka waktu 10 bulan variabel inflasi hampir tidak dipengaruhi oleh
variabel lainnya. Kalaupun ada hanya sekitar 2% - 3 % ( pada bulan 1 inflasi
dipengaruhi 98% oleh dirinya sendiri dan 2% oleh DIF1[LN[ER]] ).
·
Tabel 3. FEVD Mining
and Quarrying.
Presentase MQ dipengaruhi oleh
variabel lain tidak begitu besar. Adapun yang mempengaruhi adalah inflasi yang
berkisar 4% - 9% ( pada bulan1, 5, dan 10) selebihnya hanya berada pada angka
1% ( DIF1[LN[MF]], pada bulan
ke 5 dan 10 begitu juga dengan DIF1[LN[ER]] ).
·
Tabel 3. FEVD Agriculture.
Jika pada MQ variabel yang dominan
mempengaruhi adalah inflasi. Pada Agriculture inflasi hanya mempengaruhi 3% (
pada bulan 1, 5, 10). Hal yang mengejutkankan bahwa biasanya jika variabel akan
dipengaruhi oleh dirinya sendiri itu presentasenya akan mencapai 90%, tapi tidak
untuk agriculture yang dipengaruhi oleh
dirinya sekitar 8% - 9% saja. MQlah yang mempengaruhi sebagian besar sektor
agriculture atau sekitar 87% - 88%. Seperti yang kita ketahui dalam perhitungan
GDP Indonesia sektor migas merupakan penyumbang terbesar.
·
Tabel 4. FEVD Manufacture
Sektor Mining
and Quarrying adalah sektor yang menyediakan input bagi sektor
manufaktur wajar apabila pengaruh sektor ini sangat besar sekitar 81% - 82 %.
Sektor Agriculture menyumbang 5% - 6% pengaruhnya terhadap sektor manufaktur,
disusul dengan inflasih yang hanya mempengaruhi 4% - 5% saja. Kita tentunya
tidak heran apabila sektor manufaktur hampir tidak bisa mempengaruhi dirinya
sendiri dikarenakan sektor ini membutuhkan Sektor Mining
and Quarrying.
·
Tabel 5. FEVD Exchange Rate.
Pada tabel diatas menunjukakan
bahwa Exchange Rate dipengaruhi 94% dipengaruhi dirinya sendiri selama periode
10 bulan.
KESIMPULAN
Jika melihat
signifikansi variabel inflasi sebagai variabel tetap tidak begitu signifikan
mempengaruhi variabel lainya. Penelitian ini memperlihatkan dalam jangka pendek
bahwa inflasi tidak begitu mempengaruhi kegiatan perekonomian Indonesia
khususnya export – impor.
Hasil test IRF
menunjukan bahwa inflasi di Indonesia tidak signifikan dalam mempengaruhi
variabel lainnya (jangka waktu pendek ). Hal ini dikuatkan dengan melihat tabel
3 sampai tabel 5 inflasi hanya mempengaruhi variabel lainnya paling besar 9%.
Jatuhnya Mining
and Quarrying seperti yang terlihat pada gambar 2 lebih disebabkan melemahanya
permitaan dunia bukan inflasi. Hal itu berdampak kepada menurunya pendapatan
Indonesia yang sebagian besar ditopang oleh sektor migas.
REFERENSI
Tri Wibowo ,2012 “Potret Industri Manufaktur Indonesia Sebelum dan Pasca
Krisis (Suatu pendekatan fungsi produksi
Cobb-Douglas)” dalam Peneliti
Madya pada Pusat Kebijakan Ekonomi makro, Badan Kebijakan Fiskal, Departemen
Keuangan.
Yati
Kurniati, yanfitri oktober 2010 “DINAMIKA INDUSTRI MANUFAKTUR DAN RESPON
TERHADAP SIKLUS BISNIS” dalam bulletin Ekonomi Moneter dan Perbankan
BANK
INDONESIA.2013. Data Agriculture,Mining and Quarrying,
Manufacture. Tersedia di (http://www.bi.go.id/sdds/series/ppi/index_ppi.asp) diakses
diakses 4.01 /30 maret 2013
Badan
Pusat Statistik.2013. Statistik
Indonesia. Tersedia di www.bps.go.id diakses 4.19/30 maret 2013
Songsak Sriboonchitta Hung T. Nguyena,b,
AreeWiboonpongse c, Jianxu Liu a. 2013.“Modeling volatility and dependency of agricultural price
and production indices of Thailand: Static versus time-varying copulas.
Saimul, M.
Tambunan, R. Oktaviani, M. Firdaus “ANALISIS PENGARUH EKSPOR INDUSTRI
MANUFAKTUR PADA KINERJA MAKROEKONOMI INDONESIA” dalam Jurnal Organisasi dan
Manajemen, Volume 7, Nomor 2, September 2011, 75-85
Wikipedia.2013.Inflasi.Tersedia di www.wikipedia.org
(diakses 21-04-2013)
NOFA HARRY REGOWO,2008 “ANALISIS INTEGRASI PASAR KOPRA DUNIA DENGAN PASAR
KOPRA DAN MINYAK GORENG KELAPA DOMESTIK” dalam jurnal ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT
PERTANIAN BOGOR 2008.
Defenisi agriculture tersedia di
http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian,
http://organisasi.org/definisi-pengertian-pertanian-bentuk-hasil-pertanian-petani-ilmu-geografi, di akses 11.30 /5 mei 2013
Defenisi mining and Quarrying tersedia di http://infopertambangan.blogspot.com/2012/10/pengertian-pertambangan.html,
http://irfan-abet.blogspot.com/2013/01/jenis-jenis-pertambangan-di-indonesia.html
di akses 11.30 /5 mei 2013
Defenisi manufacture tersedia di
http://id.wikipedia.org/wiki/Manufaktur di akses 11.30 /5 mei 2013



















0 komentar:
Posting Komentar