Senin, 15 Juli 2013

ANALISIS PENGARUH INFLASI TERHADAP KEGIATAN PEREKONOMIAN INDONESIA DARI SEGI EXPOR – IMPORT


SUPANDI
Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala

ABSTRACT
In many case the export and impor analysis  variable dependency using Gross Domestic product (GDP). In my opinion using GDP as variable is to large and did’nt gives variable  by right with influence in analysis . This journal purpose to given  how much inflation as dependent variable to influence Mining and Quarrying, manufacture, agriculture, and exchange rate with play role as independency variable. To analysis I’m using vector auto regression (VAR). And the estimed can using to give sees of the reader that the inflation in Indonesia since 1997 until 2012 actual did’nt to influce in short term.  This is shown by the result of estimated impulse response function (IRF) test on each variable, (2) all the variables together contribute to the other variables as shown by the results of estimation Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) Test.
Keyword : VAR (Vector Auto-Regressive) Test, KPSS Stationarity Test, Mining and Quarrying, manufacture, agriculture, and exchange rate.


PENDAHULUAN

Penulisan atikel ini dimaksudkan  melihat sejauh mana perkembangan ekonomi Indonesia dinilai dari ketidakpastian variabel agriculture, inflasi, manufacturing, Mining and Quarrying. Jika pada artikel “Modeling volatility and dependency of agricultural price and production indices of Thailand: Static versus time-varying copulas” menggunakan price production index dan agriculture price index sebagai variabel utama penulis menggunakan variabel inflasi, manufacturing, Mining and Quarrying sebagai referensi . Penggunaan variabel yang lain dimaksudkan karena tidak banyaknya orang yang menggunakan variabel – variabel tersebut. Sepanjang tahun 1997 sampai 2012 Indonesia mengalami beberapa resesi yang cukup parah yang terjadi pada tahun 1998. 

  Gambar 1. Fluktuasi inflasi (IF) dari tahun 1997 – 2012 (sumber data BI.go.id, BPS 2013  diolah)

Gambar 2. perkembangan inflasi (IF), manufaktur (MF), Mining and Quarrying (MQ) dari tahun 1997 2012 (sumber data BI.go.id, BPS 2013  diolah)

Gambar 3. Perkembangan manufaktur (MF), exchange rate (ER), dan inflasi (IF) dari tahun 1997 – 2012(sumber data BI.go.id, BPS 2013  diolah)

Gambar 4. Perkembangan sektor manufaktur (MF), agriculture (AGC), dan inflasi (IF) tahun 1997 – 2012(sumber data BI.go.id, BPS 2013  diolah).


Meningkatnya utang luar negri lebih disebabkan  nilai tukar rupiah terhadap dollar yang sangat jauh, serta melemahnya peranan sistem perbankan menjadi faktor utama. Hal ini diperparah dengan tidak mampunya pemerintah dalam menghadapi krisis yang menyebabkan menurunnya kepercayaan pihak – pihak pendonor untuk membantu. Yang terakhir disebabkan oleh kondisi politik yang tidak menentu. Dampaknya tidak hanya pada sektor moneter saja tetapi juga mempengaruhi sektor rill (migas) Indonesia. Menurunnya Ekspor migas dengan tajam dikarenakan melemahnya permintaan dunia dan menurunnya harga minyak bumi di pasar internasional. Kabar baik pada saat ini adalah dapatnya ekspor  nonmigas mengimbangi ekspor migas yang turun. Hal ini menunjukan  dampak positif adanya depresiasi  rupiah.  Sementara itu depresiasi rupiah telah menyebabkan kegiatan impor melemah. Impor barang modal dan bahan baku tidak lagi dapat dipenuhi dikarenakan kurang mampunya nilai rupiah dalam mengimbangi harga yang sudah melonjak tinggi. Hal ini lah yang menjatuhkan sektor manufaktur yang sebagian faktor produksi impor dari luar, dan terpaksa menutup usahanya. Adanya penolakan L/C impor oleh perbankan luar negeri telah mengakibatkan semangkin sulitnya  kegiatan impor berjalan.

Institute management development mencatat setidaknya ada 4 kekurangan Indonesia dalam persaingan : pertama, buruknya kinerja perekonomian nasional yang tercermin dalam kinerja di perdagangan internasional, investasi, ketenagakerjaan, dan stabilitas harga. Kedua, rendahnya efisiensi kelembagaan pemerintahan dalam mengembangkan kebijakan pengelolaan keuangan negara dan kebijakan fiskal, pengembangan berbagai peraturan dan perundangan untuk iklim usaha kondusif.  Ketiga, lemahnya efisiensi usaha dalam mendorong peningkatan produksi dan inovasi secara bertanggung jawab yang tercermin dari tingkat produktivitasnya yang rendah, pasar tenaga kerja yang belum optimal, akses ke sumberdaya keuangan yang masih rendah, serta praktik dan nilai manajerial yang relative belum profesional. Keempat, keterbatasan infrastruktur, baik infrastruktur fisik, teknologi, maupun infrastruktur dasar yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan dan kesehatan (triwibowo, Potret Industri Manufaktur Indonesia Sebelum dan Pasca Krisis (Suatu pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas)).

TINJAUAN TEORITIS

1.      Inflasi

Secara teoritis inflasi dapat dikatakan sebagai  suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum, terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Tapi kita tidak bisa mengatakan bahwa harga naik sudah terjadi inflasi karena harga naik bisa disebabkan dari proses transaksi. CPI dan GDP Deflator merupakan dua alat paling umum yang digunakan untuk mengukur inflasi.

Berdasarkan penyebabnya secara umum :
1.1      Rasangan volume permintaan yang berlebihan dapat mengakibatkan perubahan harga (demand pull-       inflation)
1.2    Seperti yang tertera pada pengertian diatas bahwa inflasi dapat disebabkan oleh tersendatnya faktor        produksi, produksi macet, barang menjadi langka, Akibatnya hargapun tinggi (cost push-inflation)

Berdasarkan dampaknya inflasi dapat diklasfikasi,

a.      Inflasi ringan  (kurang dari 10% / tahun)
b.      Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
c.      Inflasi berat    (antara 30% sampai 100% / tahun)
d.      Hiperinflasi     (lebih dari 100% / tahun)


2.      Agriculture.
Menurut defenisi bahasa Indonesia “Agriculture” adalah pertanian. Pertanian adalah usaha manusia dalam memanfaatkan sumber daya hayati terhadap pemenuhan kebutuhan hidup (pangan). Suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai subjek dengan alasan efisiensi dan peningkatan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga menjadi bagian dalam usaha pertanian. Contohnya kehutanan merupakan subyek pertanian dengan karakteristik lahan yang tidak dimanfaatkan (liar) biasanya tanaman berupa pohon.

Bentuk-Bentuk Pertanian Di Indonesia :

2.1.   Sawah. Sawah adalah suatu bentuk pertanian yang dilakukan di lahan basah dan memerlukan banyak        air baik sawah irigasi, sawah lebak, sawah tadah hujan maupun sawah pasang surut.
2.2. Tegalan. Tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada pengairan air hujan,       ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan      tanahnya sulit untuk dibuat pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim               kemarau lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian.
2.3. Pekarangan. Perkarangan adalah suatu lahan yang berada di lingkungan dalam rumah (biasanya dipagari   dan masuk ke wilayah rumah) yang dimanfaatkan / digunakan untuk ditanami tanaman pertanian.
2.4. Ladang Berpindah. Ladang berpindah adalah suatu kegiatan pertanian yang dilakukan di banyak lahan     hasil pembukaan hutan atau semak di mana setelah beberapa kali panen / ditanami, maka tanah sudah       tidak subur sehingga perlu pindah ke lahan lain yang subur atau lahan yang sudah lama tidak digarap.

Beberapa H asil-Hasil Pertanian Di Indonesia :

1. Pertanian Tanaman Pangan
    Padi, jagung, kedelai, kacang tanah, ubi jalar, ketela pohon.

2. Pertanian Tanaman Perdagangan
    Kopi, teh, kelapa, karet, kina, cengkeh, kapas.

3.    Mining and Quarrying

Istilah Mining and Quarrying dapat diartikan sebagai kegiatan pertambangan. Pertambangan sendiri dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, migas).
  
Beberapa jenis pertambangan yang ada di Indonesia :

a.   Minyak bumi
Minyak bumi berasal dari mikroplankton yang terdapat di danau-danau, teluk-teluk, rawa-rawa, dan laut-laut dangkal. Sesudah mati,mikroplankton berjatuhan dan mengendap di dasar laut, kemudian bercampur dengan lumpur yang dinamakan lumpur sapropelium. Akibat tekanan dari lapisan-lapisan atas dan pengaruh panas magma terjadilah proses destilasi hingga terjadilah minyak bumi kasar. Proses pembentukan minyak bumi memerlukan waktu jutaan tahun. Daerah-daerah penghasil minyak bumi di Indonesia adalah sebagai berikut: Pulau Jawa: Cepu, Cirebon, dan Wonokromo. Pulau Sumatera: Palembang (Sungai gerong dan sungai Plaju) dan Jambi (Dumai) Pulau Kalimantan: Pulau Tarakan, Pulau Bunyu, Kutai dan Balikpapan.

b.      Gas alam

Gas Alam merupakan campuran beberapa (CH4 atau C2H6), propan, (C3H6) dan butan (C4H10) yang digunakan sebagai bahan bakar. Ada 2 macam gas alam cair yang diperdagangkan, yaitu LNG dan LPG. LNG (Liquified Natural Gas) atau Gas alam cair yang terdiri atas gas metan dan gas etan, membutuhkan suhu sangat dingin supaya dapat disimpan sebagai cairan. Gas alam cair diproduksi di Arun dan Badak, selanjutnya diekspor antara lain di Jepang.LPG (Liquified Petrolium Gas) atau gas minyak bumi cair yang dipasarkan dengan nama elpiji dalam tabung besi terdiri atas gas propan dan butan. Elpiji inilah yang digunakan sebagai bahan bakar kompor gas atau penamas lainnya.

c.       Batu bara

Proses terbentuknya batu bara yang dilakukan oleh bakteri anaerop dan sisa-sisa tumbuh-tumbuhan yang menjadi keras karena beratnya sendiri. Jadi tidak ada kenaikan suhu dan tekanan. Proses ini mengakibatkan tumbuh-tumbuhan berubahmenjadi gambut (turf).
Daerah tambang batu bara di Indonesia adalah sebagai berikut:Ombilin dekat sawahlunto (sumatera Barat) menghasilkan batu bara muda yang sifatnya mudah hancur. Bukit asam dekat Tanjung Enim (palembang) menghasilkan batu bara muda yang sudah menjadi antrasit karena pengaruh magma. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan (Pulau laut/Sebuku) Jambi, Riau, Aceh, Papua (Irian Jaya).

4.   Manufacture.

     Manufaktur adalah suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin, peralatan dan tenaga kerja dan suatu medium proses untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi untuk dijual.
Istilah ini bisa digunakan untuk aktivitas manusia, dari kerajinan tangan sampai ke produksi dengan teknologi tinggi, namun demikian istilah ini lebih sering digunakan untuk dunia industri, dimana bahan baku diubah menjadi barang jadi dalam skala yang besar. Manufaktur ada dalam segala bidang sistim ekonomi. Dalam ekonomi pasar bebas, manufakturing biasanya selalu berarti produksi secara masal untuk dijual ke pelanggan untuk mendapatkan keuntungan. Beberapa industri seperti semikonduktor dan baja lebih sering menggunakan istilah fabrikasi dibandingkan manufaktur. Sektor manufaktur sangat erat terkait dengan rekayasa atau teknik.

TINJAUAN EMPIRIS

            Nofa Harry Regowo (2008) yang meneliti Analisis integrasi kopra dunia dengan pasar kopra dan minyak goreng kelapa domestik (menggunakan VAR) menemukan 1. Pasar kopra domestik dan pasar minyak goreng kelapa domestik terintegrasi dengan pasar kopra dunia secara satu arah. Kedua pasar domestik tersebut dipengaruhi oleh pasar kopra dunia, tetapi tidak sebaliknya. Dalam hal ini pasar kopra dunia bertindak sebagai pemimpin harga, sedangkan kedua pasar domestik sebagai pengikut harga. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari ciri globalisasi ekonomi dunia, di mana ekonomi internasional tidak lagi merupakan bagian kecil dari ekonomi nasional suatu negara, tetapi justru ekonomi nasional suatu negara yang merupakan bagian kecil dari ekonomi internasional, sehingga pembentukkan harga kopra dan hasil olahannya yaitu minyak goreng kelapa di Indonesia, di samping dipengaruhi oleh unsur biaya yang disebabkan oleh panjangnya mata rantai perdagangan dan unsur biaya lain yang ada di dalam kegiatan perdagangan domestik juga dipengaruhi oleh perkembangan harga yang terjadi di pasar dunia.

2. Pada pasar domestik, integrasi pasar yang terjadi antara pasar kopra domestik dan pasar minyak goreng kelapa domestik merupakan integrasi pasar yang searah karena hanya harga minyak goreng kelapa yang berpengaruh signifikan terhadap harga kopra domestik, dan tidak sebaliknya. Hal ini disebabkan adanya struktur pasar yang cenderung bersifat oligopsoni di mana pemegang hak oligopsoni ini adalah pabrik minyak goreng kelapa. Selain itu, sebagian besar industri kopra juga diusahakan oleh rakyat di mana sering kali memiliki bargaining position yang rendah yang ikut pula mempengaruhi penerimaan harga kopra. Dengan adanya integrasi pada pasar domestik tersebut, mengindikasikan adanya informasi pasar yang baik akan menjadi sangat penting karena dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar pelaku industri kopra. Sampainya informasi pasar tentang tingkat mutu kopra kepada produsen akan menyebabkan nilai tambah dari hasil pemasaran juga dinikmati oleh produsen.

            Saimul dkk, (September, 2011) yang meneliti analisis pengaruh export industri manufaktur pada kinerja makro ekonomi Indonesia menemukan Hasih analisis menunjukkan (1) Guncangan ekspor agroindustri manufaktur dalam jangka pendek dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi (0,10%), dan terhadap net ekspor, inflasi, dan nilai tukar memiliki dampak negatif. Dalam jangka panjang guncangan ekspor agroindustri menurunkan kinerja makrokonomi Indonesia yakni menurunkan pertumbuhan ekonomi, net ekspor, inflasi, dan nilai tukar. Respon kinerja makroekonomi atas guncangan ekspor agroindustri rata-rata mencapai keseimbangan pada periode ke-38. (2) Guncangan ekspor non-agroindustri dalam jangka pendek berpengaruh positif pada kinerja makroekonomi yakni pada pertumbuhan ekonomi, net ekspor, inflasi, dan nilai tukar. Dalam jangka panjang guncangan ekspor non-agroindustri juga berdampak positif dengan kecenderungan meningkat, sehinggga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, net ekspor, inflasi, dan nilai tukar. Namun terhadap nilai tukar mengalami penurunan (apresiasi rupiah). Respon kinerja makroekonomi atas guncangan ekspor non-agroindustri rata-rata stabil pada periode ke 38.


METODE PENELITIAN

v  Jenis Data dan Sumbernya
Dalam penelitian ini menggunakan jenis data time series yaitu Inflasi, Agriculuture, Mining and Quarrying, dan Exchange Rate dalam bentuk bulanan. Adapun data ini didapat dari sumber (oanda.com) dan website BI (www.bi.go.id) yang dimulai dari tahun 1997 – 2012.

v  Variabel Penelitian
Dalam penulisan artikel ini menggunakan data : Inflasi (IF), Agriculuture (AGC), Mining and Quarrying (MQ), dan Exchange Rate (ER).

v  Model Analisis Data.
*      Model VAR (Vector Auto-Regressive)

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam dalam pengaplikasian model VAR, antara lain :

1.      Variabel yang menyebabkan atau yang saling mempengaruhi yang dimasukkan kedalam sistem.
2.   Pengikutsertaan variabel jeda yang mampu melihat keterkaitan variabel satu dengan variabel lainnya didalam sistem tersebut.
3.      Menggunakan uji kausalitas pada variabel yang akan dianalisis.

Dalam menganalisa regressi hal yang perlu dilihat adalah ketergantungan/ hubungan antara variabel agriculture sebagai variabel tetap ( dependen) dengan variabel bebasnya (independen) : Inflasi (IF), Mining and Quarrying (MQ), dan Exchange Rate (ER). Perlu diperhatikan bahwa,




Sedangkan dalam penelitian penulis menggunakan  :
IFt          = α1 + a1i ∑ IF t-k  + a1i ∑ AGC2 t-k + a1i ∑ MQ t-k+ a1i ∑ ER t-k + εi
AGC2t = α2 + a2i ∑ IF t-k  + a2i ∑ AGC2 t-k + a2i ∑ MQ t-k+ a2i ∑ ER t-k + εi
MQ3t    = α3 + a3i ∑ IF t-k  + a3i ∑ AGC2 t-k + a3i ∑ MQ t-k+ a3i ∑ ER t-k + εi
ER4t      = α4 + a4i ∑ IF t-k  + a4i ∑ AGC2 t-k + a4i ∑ MQ t-k+ a4i ∑ ER t-k + εi
Dimana :
IF      = Inflasi
AGC = Agriculture
MQ   =  Mining and Quarrying
ER    =  Exchange Rate
ε  = Error Term  ( Residual )
Hipotesisnya :
HO = Tidak terdapat VAR sampai order p pada residual
Ha = Terdapat VAR sampai order p pada residual
Penggunaan KPSS stationarity bertujuan untuk melihat apakah masing – masing variabel stasioner atau tidak. Pendekatan VAR menggunakan aplikasi EasyReg International : Multiple Equation VAR Innovation Resposne Analysis.
Hipotesis dari KPSS Stationarity Test :
H0: z(t) = x + q.t + u(t), dimana u(t) = 0
H1: z(t) = z(t-1) + x + u(t)


HASIL DAN PEMBAHASAN

v  Uji stationary
Dalam penulisan ini uji stationary menggunakan KPSS stationary Test. Sesuai dengan hipotesis (Ho) maka data tersebut stationer.

Sumber : Data Penelitian, diolah menggunakan EasyReg

Berdasarkan hasil diatas diketahui semua variabel siginfikan pada tingkat 5 % dan beberapa variabel seperti DIF1[LN[AGC]], DIF1[LN[MF]], DIF1[LN[ER]] juga signifikan pada tingkat 10%.

v  Uji Kausalitas Menggunakan Metode VAR

Untuk menguji hubungan antara variabel dengan menggunakan (VAR) variabel terlebih dahulu sudah distationerkan. Hal ini dapat di lihat pada tabel 1. Adapun hasil dari uji kasualitas antara variabel : 

1.      Impulse Response Function


     Gambar 5.  Pengaruh inflasi terhadap Mining and Quarrying.

     Seperti yang terlihat pada gambar 5 bahwa dalam waktu 10 bulan inflasi tidak berpengaruh terhadap            Mining and Quarrying. 

     Gambar 6. Pengaruh inflasi terhadap Agriculture.
     Gambar 6 menunjukan bahwa inflasi berpengaruh terhadap agriculture dalam jangka pendek ( hanya               butuh waktu 2 bulan untuk inflasi mempengaruhi agriculture).

     Gambar 7. Pengaruh inflasi terhadap manufaktur.
     Hal yang sama terjadi pada sektor manufaktur dimana inflasi juga berpengaruh terhadap sektor                      manufaktur dalam jangka pendek. 

Gambar 8. Pengaruh inflasi terhadap exchange rate.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa inflasi mempengaruhi nilai tukar mata uang. Hal ini secara simultan akan menunjukan  kemampuan Negara dalam mengakomodir export – impornya.

1.      Forecast Error Variance Decomposition (FEVD)
·         Tabel 2. FEVD Inflasi
Apabila melihat tabel  FEVD Inflasi kita dapat mengetahui bahwa dalam jangka waktu 10 bulan variabel inflasi hampir tidak dipengaruhi oleh variabel lainnya. Kalaupun ada hanya sekitar 2% - 3 % ( pada bulan 1 inflasi dipengaruhi 98% oleh dirinya sendiri dan 2% oleh DIF1[LN[ER]] ).

                   ·         Tabel 3. FEVD Mining and Quarrying. 
Presentase MQ dipengaruhi oleh variabel lain tidak begitu besar. Adapun yang mempengaruhi adalah inflasi yang berkisar 4% - 9% ( pada bulan1, 5, dan 10) selebihnya hanya berada pada angka 1% ( DIF1[LN[MF]], pada bulan ke 5 dan 10 begitu juga dengan DIF1[LN[ER]] ).

·         Tabel 3. FEVD Agriculture.

Jika pada MQ variabel yang dominan mempengaruhi adalah inflasi. Pada Agriculture inflasi hanya mempengaruhi 3% ( pada bulan 1, 5, 10). Hal yang mengejutkankan bahwa biasanya jika variabel akan dipengaruhi oleh dirinya sendiri itu presentasenya akan mencapai 90%, tapi tidak untuk  agriculture yang dipengaruhi oleh dirinya sekitar 8% - 9% saja. MQlah yang mempengaruhi sebagian besar sektor agriculture atau sekitar 87% - 88%. Seperti yang kita ketahui dalam perhitungan GDP Indonesia sektor migas merupakan penyumbang terbesar.

·         Tabel 4. FEVD Manufacture


Sektor Mining and Quarrying adalah sektor yang menyediakan input bagi sektor manufaktur wajar apabila pengaruh sektor ini sangat besar sekitar 81% - 82 %. Sektor Agriculture menyumbang 5% - 6% pengaruhnya terhadap sektor manufaktur, disusul dengan inflasih yang hanya mempengaruhi 4% - 5% saja. Kita tentunya tidak heran apabila sektor manufaktur hampir tidak bisa mempengaruhi dirinya sendiri dikarenakan sektor ini membutuhkan Sektor Mining and Quarrying.

·         Tabel 5. FEVD Exchange Rate.

Pada tabel diatas menunjukakan bahwa Exchange Rate dipengaruhi 94% dipengaruhi dirinya sendiri selama periode 10 bulan.


KESIMPULAN
Jika melihat signifikansi variabel inflasi sebagai variabel tetap tidak begitu signifikan mempengaruhi variabel lainya. Penelitian ini memperlihatkan dalam jangka pendek bahwa inflasi tidak begitu mempengaruhi kegiatan perekonomian Indonesia khususnya export – impor.
 
Hasil test IRF menunjukan bahwa inflasi di Indonesia tidak signifikan dalam mempengaruhi variabel lainnya (jangka waktu pendek ). Hal ini dikuatkan dengan melihat tabel 3 sampai tabel 5 inflasi hanya mempengaruhi variabel lainnya paling besar 9%.

Jatuhnya Mining and Quarrying seperti yang terlihat pada gambar 2 lebih disebabkan melemahanya permitaan dunia bukan inflasi. Hal itu berdampak kepada menurunya pendapatan Indonesia yang sebagian besar ditopang oleh sektor migas.














REFERENSI
Tri Wibowo ,2012 “Potret Industri Manufaktur Indonesia Sebelum dan Pasca Krisis (Suatu pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas)” dalam Peneliti Madya pada Pusat Kebijakan Ekonomi makro, Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan.

Yati Kurniati, yanfitri oktober 2010 “DINAMIKA INDUSTRI MANUFAKTUR DAN RESPON TERHADAP SIKLUS BISNIS” dalam bulletin Ekonomi Moneter dan Perbankan

BANK INDONESIA.2013. Data Agriculture,Mining and Quarrying, Manufacture. Tersedia di (http://www.bi.go.id/sdds/series/ppi/index_ppi.asp) diakses diakses 4.01 /30 maret 2013
Badan Pusat Statistik.2013. Statistik Indonesia. Tersedia di www.bps.go.id diakses 4.19/30 maret 2013
Songsak Sriboonchitta Hung T. Nguyena,b, AreeWiboonpongse c, Jianxu Liu a. 2013.“Modeling  volatility and dependency of agricultural price and production indices of Thailand: Static versus time-varying copulas.

Saimul, M. Tambunan, R. Oktaviani, M. Firdaus “ANALISIS PENGARUH EKSPOR INDUSTRI MANUFAKTUR PADA KINERJA MAKROEKONOMI INDONESIA” dalam Jurnal Organisasi dan Manajemen, Volume 7, Nomor 2, September 2011, 75-85

Wikipedia.2013.Inflasi.Tersedia di www.wikipedia.org (diakses 21-04-2013)
NOFA HARRY REGOWO,2008 “ANALISIS INTEGRASI PASAR KOPRA DUNIA DENGAN PASAR KOPRA DAN MINYAK GORENG KELAPA DOMESTIK” dalam jurnal ekonomi  DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008.

Defenisi agriculture tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian,    http://organisasi.org/definisi-pengertian-pertanian-bentuk-hasil-pertanian-petani-ilmu-geografi,  di akses 11.30 /5 mei 2013

Defenisi mining and Quarrying tersedia di http://infopertambangan.blogspot.com/2012/10/pengertian-pertambangan.html, http://irfan-abet.blogspot.com/2013/01/jenis-jenis-pertambangan-di-indonesia.html di akses 11.30 /5 mei 2013

Defenisi manufacture tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Manufaktur di akses 11.30 /5 mei 2013


0 komentar:

Posting Komentar